DIMANA FINISH ESTAFET PENDIDIKAN INDONESIA???.

Allah Ta’ala berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” [Al-Mujaadilah: 11]
Dia pun berfirman:
“Katakanlah, ‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.’” [Thaahaa: 114]
Ilmu pengetahuan besar menfaatnya untuk setiap individu. Bahkan dewasa ini wajib belajar 9 tahun di gembar – gemborkan diberbagai iklan layanan masyarakat. Hingga banyak upaya yang dilakukan untuk merealisasikan pendidikan wajib 9 tahun yang benar – benar nyata, sekian persen anggaran belanja negara difungsikan untuk pendidikan gratis, pembelian hak cipta buku pelajaran dsb. Semua itu kembali pada tujuan utama untuk mencapai pembentukan sumber daya yang kompetitif dan menyokong kemajuan bangsa.


Tiada gading yang tak retak, begitu pula dengan perencanaan pendidikan yang telah sebaik mungkin di susun. Masih ada kepincangan yang mengganjal sehingga menjadi tidak semulus yang diinginkan. Salah satunya ialah kurikulum yang tidak diketahui pasti hasil final di lapangan.
Pembaca yang budiman, masih ingatkah selama SD hingga SMA berapa kali berganti kurikulum??? Karena bawasannya tak urung setelah zaman reformasi dan kurikulum 1994 coba untuk diganti sudah banyak kurikulum yang di ujicobakan pada bibit – bibit bangsa.
Kita mulai dari zaman sewaktu kita masih SD antara tahun 2003 – 2004 pemerintah menawarkan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), kemudian tak sampai bertahan lama di ganti dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), serta untuk metode pembelajarannya, ada SCL (Student Center Learning), dan katanya ada STARS (Student, Teacher, Aestetic, Rulers Sharing). Semua punya tujuan sama: agar kualitas pendidikan di Indonesia meningkat, baik aspek kognitif, afektif, dan psikomotori.
Sejalan dengan berubahnya kurikulum, berubah pula buku yang di tawarkan oleh pasaran. Selain itu, berubah pula penyebutan setiap tingkat, dulu penyebutan SMP ialah kelas 1 SMP,2 SMP, 3 SMP kemudian SMA juga 1,2,3. Setelah perubahan kurikulum, yang konon katanya meniru salah satu bangsa yang sukses dalam pendidikan, diganti menjadi kelas 7,8,9 untuk SMP, dan 10,11,12 untuk SMA.
Pendidik sebagai penyalur ilmu mau tak mau harus mengikuti apa yang pemerintah tawarkan. Dan. Muridpun tiada daya untuk menolak segala perubahan. Lalu, sebenarnya seperti apa kurikulum yang bangsa Indonesia butuhkan???? Mengapa Indonesia tidak membuat suatu kurikulum yang benar – benar cocok dengan keadaan negaranya sendiri. Dan, tidak serta merta silau dengan keberhasilan pendidikan Barat, kemudian mencoba menirunya.
Segala urusan dunia jika solusinya diserahkan pada hasil pemikiran manusia tanpa melibatkan hukum-hukum Allah didalamnya, maka solusi tersebut tidak bisa menuntaskan masalah. Sehingga yang terjadi adalah fenomena tambal sulam ataupun gali lubang, tutup lubang atas masalah yang ada. Maka dari itu jika ingin menyelesaikan masalah tanpa masalah termasuk pendidikan harus berujung pangkal pada Islam.
Islam diturunkan Allah SWT melalui Rasulullah Muhammad tidak sekadar melakukan perbaikan akhlaq. Namun lebih jauh lagi, turunnya Islam menjadi penyempurna dari semua agama yang ada dan memuat semua tata aturan kehidupan secara paripurna.
Sepanjang sejarah dunia, Islam telah terbukti mampu membangun peradaban manusia yang khas dan mampu menjadi pencerah serta penerang hampir seluruh dunia dari masa-masa kegelapan dan kejayaannya +13 abad lamanya. Factor paling menentukan atas kegemilangan Islam membangun peradaban dunia adalah keimanan dan keilmuannya. Tidak ada pemisahan ataupun dikotomi atas kedua factor tersebut dalam pola pendidikan yang diterapkan. Sehingga generasi yang dihasilkan juga tidak diragukan kehandalannya hingga kini.
Sebut saja tokoh Ibnu Sina sebagai sosok yang dikenal peletak dasar ilmu kedokteran dunia namun beliau juga faqih ad-diin terutama dalam hal ushul fiqh. Masih ada tokoh-tokoh dunia dengan perannya yang penting dan masih menjadi acuan perkembangan sains dan teknologi berasal dari kaum muslimin yaitu Ibnu Khaldun(bapak ekonomi), Ibnu Khawarizm (bapak matematika), Ibnu Batutah (bapak geografi), Al-Khazini dan Al-Biruni (Bapak Fisika), Al-Battani (Bapak Astronomi), Jabir bin Hayyan (Bapak Kimia), Ibnu Al-Bairar al-Nabati (bapak Biologi) dan masih banyak lagi lainnya. Mereka dikenal tidak sekadar paham terhadap sains dan teknologi namun diakui kepakarannya pula di bidang ilmu diniyyah.
Kalau begitu pola pendidikan seperti apa yang mampu mencetak generasi islam berkualitas sekaliber tokoh-tokoh dunia tersebut? Membangun kepribadian islami yang terdiri dari pola pikir dan pola jiwa bagi umat yaitu dengan cara menanamkan tsaqofah Islam berupa Aqidah, pemikiran, dan perilaku Islami kedalam akal dan jiwa anak didik. Tujuan dari pola pendidikan Islam bisa terlaksana jika ditopang dengan pilar yang akan menjaga keberlangsungan dari pendidikan Islam tersebut. Pilar penopang pendidikan Islam yang dibutuhkan untuk bekerja sinergis terdiri dari :
1. Keluarga (Family)
Islam memiliki pandangan bila keluarga merupakan gerbang utama dan pertama yang membukakan pengetahuan atas segala sesuatu yang dipahami oleh anak-anak. Keluarga adalah media pembelajaran pertama seorang anak semenjak ia lahir sampai kemudian berinteraksi dengan fasilitator pendidikan yang lain.
Singkatnya, keluarga sebagai cermin keteladanan bagi generasi baru. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :
“Setiap anak dilahirkan atas fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak itu beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)
2. Masyarakat (society)
Pendidikan tidak hanya behenti pada pendidikan formal (sekolah), namun justru pendidikan generasi Islami yang bersifat non formal di tengah masyarakat harus beratmosfer Islam pula. Ada beberapa peran yang bisa dimainkan masyarakat sebagai pilar penopang pendidikan generasi islami yaitu sebagai control penyelenggaraan pendidikan oleh negara dan laboratorium permasalahan kehidupan yang kompleks.
Hikmah laksana hak milik seorag mukmin yang hilang. Dimanapun ia mejumpainya, disana ia mengambilnya (HR. Al-Askari dari Anas ra)
3. Madrasah (school)
Zaman Rasulullah SAW masjid – masjid difungsikan ganda sebagai pendidikan formal bagi kaum muslimin. . Didalamnya tidak semata-mata membahas ilmu diniyah, namun juga ilmu terapan. Rasulullah menjadikan masjid untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam, tapi penyusunan strategi perang pun juga seringkali dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabat didalam masjid. Sedangkan dimasa modern saat ini pendidikan bisa dialihkan yang semula masjid ke tempat dengan fasilitas yang menunjang dalam proses pembelajaran lebih efektif baik itu sekolah maupun perguruan tinggi. Hal ini sah-sah saja dan tidak bisa dianggap sebagai upaya memisahkan anak didik dari masjid. Madrasah meletakkan harapan besar kepada para tenaga pendidik untuk memberikan proses yang tidak sekadar transfer of knowledge tapi juga cultivate of spirit and value. Maka dari itu arti guru yaitu digugu dan ditiru benar-benar bisa terlaksana dan terjaga dengan baik.
4. Negara (state)
Negara sebagai pilar penopang bisa mewujudkan pola pendidikan Islami akan lebih optimal, efektif dan sempurna jika didukung dengan semua kebijakan yang dikeluarkan terhadap aspek kehidupan ini berlandaskan syari’at Islam. Peran yang bisa diambil oleh Negara dalam mewujudkan pola pendidikan Islami seperti menyusun kurikulum berdasarkan aqidah islam untuk semua institusi pendidikan (sekolah dan perguruan tinggi). Filterisasi terhadap paham-paham sesat dan menyesatkan bisa dijalankan melalui standar kurikulum Islami. Sehingga harapannya tidak lagi masuk di materi sekolah tentang teori Darwin, ekonomi ribawi, serta filsafat liberal-sekuler dan lainnya yang tidak sesuai dengan Aqidah Islam.

Indonesia sebagai negara yang memiliki masyarakat yang heterogen, bersuku – suku dan berbeda agama tentu tidak bisa serta merta kemudian berpidah pada metode islami. Segala sesuatu hal harus di timbang dan menyesuaikan keadaan negara, sehingga kenyamanan pendidikan yang cocok dan bermanfaat bagi Indonesia dapat terwujud.

2 thoughts on “DIMANA FINISH ESTAFET PENDIDIKAN INDONESIA???.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s