ACI (AKU CINTA INDONESIA)

Bulan Agustus menghampiri, suara sengau angin kemarau peredaran matahari di selatan khatulistiwa.  65 tahun yang lalu, para tokoh Indonesia berjuang untuk mewujudkan Indonesia merdeka.

Masih bermesin ketik untuk bisa menuliskan naskah proklamsi yang akan di bacakn pukul sepuluh besok. masih dengan jarum tangan besar untuk menjahit Sang saka merah putih yang sekarang amat berharga tiada tara, masih risau bila besok proklamasi itu tidak terjadi karena tentara Jepang menentang. Fikiran Awang menerawang sejauh jangkauan CPU otaknya. buku – buku sejarah usang yang sering ia lahap di gubuk sederhanannya membuatnya merasa dekat dengan masa – masa itu.

Matanya memicing tak kala sekelebat merah putih berkibar di depan rumah tetangganya. perasaan haru dak bangga menyeruak dalam dadanya. begitu besar perjuangan bangsa Indonesia demi mengibarkan bendera itu, dan sekarang bendera itu pasti tengah berkibar di seluruh Indonesia karena menyambut 17-an, batinnya dalam hati.

“Mak, mana benderannya biar awang yang pasang” ujarnya menghampiri Emaknya yang tengah memperbaiki letak kayu bakar untuknya memasak.

“sejak kapan kita punya bendera, Wang ?” tanya Emaknya kembali. Awang kemudian menunduk lesu dan menghela nafas. Ia baru ingat bila keluargannya tidak memiliki bendera kebangsaan negara. untuk makan saja, penghasil bapaknya tidak menentu, apalagi untuk membeli bendera yang hanya mereka pasang setahun sekali. dengan kesedihan Awang menatap merah putih. anak – anak kecil desa yang masih menggunakan seragam, berlarian mengejar layang – layang tanpa memperdulikan angin yang tengah bermain dengan bendera tersebut,

Kemudian terbersit suatu ide tak kala seorang anak kecil berlalu dari hadapannya.

sore menjelang…….

“Wang, besok ikut bapak ya..!!” ajak Bapaknya yang baru saja pulang.

“kemana pak ?” tannya lagi.

“ke alun – alun, besok ada gladi bersih persiapan upacara bendera, pasti banyak aqua, kardus, lumayan buat kamu beli buku.” senyum tulus bapaknya.

“iya,,…iya…pak mau…” Awang girang bukan kepalang.

“kamu lagi apa, Wang ?” tanya bapaknya memhampiri.

“bikin bendera pak.” senyum polos Awang mengembang.

” Bendera apa ??” tanya Bapak yang setia mengajarinya tentang arti nasinalisme.

“BUat depan rumah kita.” jawab Awang yang masih sibuk berkutat dengan jarum tangan.

” Ha ????? dari seragam SD-mu ini ??” sahut Bapaknya.

Awang menghela nafas, “iya pak..” jawabnya sedih.

” Hm…. Wang, bukannya bapak melarang, tapi kau harus tahu betapa besar arti filosofis bendera merah putih. Perjuangan dengan mengorbankan banyak peluh, darah dan perasaan demi bebasnya kibaran sang Saka Merah Putih Wang. Dan, tidak seharusnya kamu ganti dengan tambal sulam seragam SD-mu yang sudah jelek ini.” ujar Bapaknya.

“maafin Awang Pak, tapi mau gimana lagi, Awang merasa menghianati bangsa bila tak mengibarkannya.”timpal Awang.

“Lebih Berkhianat bila kita tidak menghargai perjuannya.” Kata Bapaknya.

“Padahal, kadang kalo upacara bendera temen – temen Awang cengengesan kalo pengibaran bendera pak.”

” Itulah mental anak Indonesia sekarang Wang, harusnya mereka harus selalu mengucapkan ACI.” terawang bapak.

” ACI ?? AKU CINTA INDONESIA”. sahut Awang dengan senyuman.

” Sudah Wang, besok bapak usahain beli bendera. Berdoa ya, Allah melimpahkan rejeki kepada kita” kata bapak, dengan  senyum di sekitar pipinya yang kian menua.

One thought on “ACI (AKU CINTA INDONESIA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s