PEMUAIAN

”Ayok Lompat Nay !!!” pinta Aga pada seorang gadis cantik berponi disebelahnya.
” Bantuin dong Ga !!!” sergah gadis itu.
” Alah, manja. Lo naik tu pot bunga, langsung naik pagar aja,.” Aga gemas.
Kreeeeeeeeeeekkkk!!!!
” Ya Ampun Ga, Rok gue sobek !!!!” protes Naya yang Sekarang tengah berada di atas Pagar sekolah itu.
“ Hey… makannya jadi murid tu yang bener. Jam sekolah, malah mau ngabur!!!” kata seorang cewek berambut panjang yang tak jauh dari mereka.
“ Kok rumah elo sepi Ga ¿??” tanya Naya sembari merebahkan diri.
“ Ya kayak gini Nay, bokap gue itu sibuk ngurus bisnisnya. Sedang Nyokap gue, jam segini mempercantik diri. Spa-lah, aerobic-lah.” Jelas Aga
“owh…. Lo anak tunggal ¿?” Naya duduk disamping kekasih barunya.
“ Sebenernya gue punya kakak, cuman sayang, sewaktu dia mau lomba Físika tingkat Nasional, dia meninggal ketabrak Bajaj.”
“ Oups, gitu ya ¿? Sorry dech Ga. Karena itu juga lo benci sama Fisika dan ngajak gue kabur waktu jam fisika???”
“ Ya, bisa jadi gitu. Gue benci ma mapel itu. Apalagi guru física gue itu selalu menghubungkan mata pembahasannya sama ilmu kejiwaan. Parahnya lagi, tu guru física juga boss Bajaj terminal.” Cerita Aga sembari meremas tangannya. ***
“ Loh Ga, elo nggak cabut ¿? Ini kan jam-nya Pak Baka, físika ¿??” kontan Neo terkaget saat mendapati teman satu bangku yang selalu menyusahkan saat ulangan akhir semester fisika.
Pak Baka adalah guru señior di SMU PERSADA. Beliau guru yang bijaksana dan selalu mengajar físika dengan enjoy. Mungkin, dia telah bersumpah pada sesepuhnya Einstein, bahwa ia akan mengabdi seumur hidup dengan físika. Bahkan nama-nya rela ia ubah dari Abdul Rabka menjadi Albert Baka. Albert ia ambil dari nama depan sesepuhnya, dan Baka gabungan dari Bajaj Fisika.
“gue nggak bisa keluar, pagar belakang di pasang kawat berduri” keluh Aga.
“ Wow ¡!! Kepala sekolah kita yang baru tanggap juga ya, menghadapi anak Phobia Físika macam elo..” Neo terkekeh sembari mengeluarkan buku tebalnya.
“ Besok gue mo cari akal baru buat keluar.” jawab Aga kemudian.
“ Selamat pagi Anak – anak. Ada berapa siswa yang naik pagar hari ini ???” tanya pak Baka dengan senyum konyolnya seperti biasa.
“ Tidak Pakk!!!!” sahut semua murid kecuali Aga.
“ Owh… Aiwangga Saoutasoma, terhormat sekali anda mau dengan terpaksa duduk di bangku reot ini dan dengan seperempat hati mengikuti pelajaran físika saya yang Sangat membosankan, menjenuhkan, menyebalkan.” Sapa Pak Baka pada murid-nya yang ia ketahui selalu mendapat nilai 10 di setiap ulangannya.
” Nah anak – anak, hari ini materi tentang Pemuaian. Di SMP telah anda ketahui bahwa setiap zat, padat cair, ataupun gas disusun oleh partikel – partikel kecil yang bergetar. Jika sebuah banda di panasi, partikel – partikel di dalamnya bergetar lebih kuat sehingga saling menjauh. Kita katakan bahwa benda itu memuai..Jika benda didinginkan, getaran – getaran partikel lemah, dan partikel saling mendekat. Sehingga hasilnya, benda menyusut.” jelas Pak Baka.
” Anda tahu, Memuai adalah salah satu aplikasi kehidupan. Seperti suasana Pemilihan umum seperti sekarang. Pemilu adalah suatu peristiwa pemuaian kekuasaan. Dalam hal ini, banyak orang yang ingin berlomba – lomba menjadi pemimpin rakyat. Mereka seperti sebuah Partikel, saat di panaskan atau saat menjelang pemilu mereka bergetar lebih kuat sehingga saling menjauh. Artinya, mereka berorasi ke masyarakat lebih intensif daripada biasanya, dan mereka saling manjatuhkan satu sama lain.”
” Pak Baka, lalu bagaimana jika di dinginkan???”
” Jika dingin, atau pemilu berlalu, mereka tak perduli dengan rakyat. Dan saling bekerja sama mendekat meraup uang rakyat, dan perhatian mereka menyusut. Oleh karena itu pemerintahan menjadi lemah dan rentan.” jawab pak Baka tersenyum puas.
” Ada materi fisika tentang Caleg nggak pak ???” tanya Somat mengacungkan jari.
” Ada, kalian tahu sifat rata – rata para Caleg ?? mereka itu seperti air. Oleh karena itu muai volum zat cair berlaku bagi mereka. Jika mereka akan pemilu, mereka mengikuti arus untuk mempromosikan diri, jika mereka mendapat banyak proyek, mereka segera memutar otak mengambil uang.”
” Lalu pak ???” tanya mereka serempak.
” Muai Zat cair cenderung lebih cepat dan besar daripada muai yang lain walau dalam temperatur yang sama. Seperti halnya caleg, mereka akan cepat promosi dan gembar – gembor janji. Tapi, mereka juga cepat berleha – leha dan melupakan janji.”
” wah pak, Rumah sakit jiwa harus siap tu pak menampung Caleg yang gagal!!” lontar Somat kemudian.
” Betul Som,, karena air selalu mengikuti bentuk wadahnya. Sehingga Caleg yang gagal harus di tempatkan ke rumah yang tepat jika mereka gagal, agar bentuk mereka tidak kacau dan stres.” senyum mengembang di bibir pak Baka.
“ Woy!!!!!!!! ko bisa ke Perpustakaan ??? nyasar ??” tanya Somat lagi sekarang dengan menempelkan punggung tangannya pada kening Aga.
“ Nggak, gue mau belajar.” Ungkap Aga.
“ Wow !!! Funtastic, yang di pinjem mapel Fisika pula. Albert Einstein.” Somat melempar pandang pada buku di tangan Aga.
“ Mapel lemah gue di fisika. Kata bu Bety Prawira, kalau gue mau jadi dokter jiwa, nilai fisika gue harus lebih dari rata – rata.” Jelas Aga sembari membaca buku di tangannya.
“ WEW!!!! DOKTER JIWA ????” Somat semakin terheran dan tak berkedip.
“ Yo’i, gara – gara bokap nyokap gue gagal jadi caleg. Mereka opnam di rumah sakit jiwa. Stress mikir duwit mereka yang banyak keluar gara – gara pemilu. Untung nggak sampai bangkrut. Dan, gue pengen jadi Dokter buat mereka sendiri. Gue kasihan sama mereka.” Ratap Aga kemudianl
Matahari bersinar tak seterik biasa, angin bertiup teduh membuat nyaman semua orang. Kendaraan tak seramai biasanya. Keadaan seakan ada yang berbeda hari ini.
GrengGG… GreEEnGGG…. “ Hay Ga. kenapa lo ?? muka di tekuk gitu..” sapa Somat.
“ Mobil gue di ambil Bank Som. Gue mau ke rumah Pak Baka.” Keluh Aga.
“ Owh.. kalo gitu gue anterin aja gimana Ga ??” Somat menawarkan diri.
“ Naik ni Bajaj ???” Seru Aga bingung.
“ Yaiya dong ya, mau jalan kaki ???” Somat menyeriangi.
“ Ya udah….” akhirnya untuk kali pertama Aga naik Bajaj.
“ Elo kerja sama pak Baka Sum ????” tanya Aga yang masih belum nyaman dengan kendaraannya sekarang.
“ Iya Ga, alhamdullillah bisa buat tambahan uang sekolah gue. Kan kita mau kuliah.” Jawab Somat dengan senyum dua kelinci miliknya (senyum mempertlihatkan dua gigi kelincinya).
“ Wah.. bajaj pak Baka unik juga ya, Cat luarnya ada tulisan rumus fisikanya.” Komentar Aga.
“ Oh..iya.. wajib itu Ga, jadi orang – orang pada tahu soal rumus Einstein, buat anak sekolah, bisa jadi hapal kalo naik bajaj.”
“ Lucu juga……” Aga pun tersenyum
Rumah joglo khas orang jawa tengah, asri, sejuk, hijau, seperti itulah kediaman Pak Baka. Pohon – pohon besar di sekitar rumah beliau fungsikan sebagai filter terhadap matahari yang semakin ganas, sehingga sejuklah yang menstimulasi sel – sel manusia di dalam kediaman itu.
“ Wah Aiwangga Soutasoma, suatu kehormatan anda berkunjung ke gubuk saya yang reot ini. Ada gerangan apa anda bersedia kesini ???” tanya Pak Baka yang tengah duduk di Gazebo.
“ Uhm… sebelumnya saya mau meminta maaf pada anda pak, karena selama ini saya meremehkan pelajaran anda. Tapi sungguh pak, sebenarnya bukan untuk menghindari anda.” Buka Aga yang tengah bersila di depan pak Baka.
“ Ya….ya…. saya sudah tahu, anda seperti itu karena kakak Anda Ergiananda Insterana Soutasoma atau sering saya Panggil Einstein Kecil itu meninggal ketika akan lomba fisika tingkat Nasional bukan??”
“ Kok Pak Baka Tahu ???”
“ Dulu kakakmu murid kesayangan saya, menurut saya dia anak yang cerdas dan mungkin bisa menjadi Fisikawan yang hebat di Indonesia. Sayangnya, dia meninggal ditabrak bajaj terlebih dahulu. Oleh karena itu juga, saya ingin menjadi bozz Bajaj, agar para Bajajwan tidak menabrak anak – anak berbakat seperti kakakmu.” Kenang Pak Baka.
“ Lalu ada apa kau datang kemari ??” tanya pak Baka kemudian.
“ Saya ingin minta bapak menjadi mentor saya dalam fisika. Saya harus memperbaiki nilai fisika saya, agar saya bisa mendapat beasiswa dokter jiwa.” Ungkap Aga.
“ Nilai fisikamu memang bapak buat seperti itu, biar kamu sadar. Lalu, mengapa kamu ingin menjadi dokter jiwa ??? cita – cita anak konglomerat yang bandel seperti kamu, memang terkadang cukup aneh.”
“ Karena orang tua saya masuk rumah sakit jiwa Pak, ayah saya bangkrut.”
“ Owh.. ya, saya sudah mendengar itu. Kurang lebih ada 34 caleg yang akhirnya masuk rumah sakit jiwa karena kegagalan mereka.” Sambung pak Baka.
“ Maka dari itu pak, saya ingin menyembuhkan mereka, dengan penanganan saya sendiri. Saya ingin berbakti pada mereka.”


2 thoughts on “PEMUAIAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s