PATI, “bumi mina tani”

Sugeng Rawuh wonten tlatah Pati.

PATI BUMI MINA TANI sebuah semboyan yang di temui saat pertama kali memasuki Pati, kota kecil di jalur pantura pulau Jawa. Pasti tidak banyak orang yang mengetahui kota pesisir satu ini, padahal produk – produk kacang atom bermerek milik garuda dan dua kelinci aslinya dari Pati lho. Kalau pengen tahu letaknya, coba buka peta Jawa Tengah bagian utara, maka akan tertera Kabupaten Pati. Jika melewati kota kecil ini, sempatkanlah untuk sebentar berkeliling, mengenal kearifan budaya lokal. Nggak kalah dengan yang udah populer kok .. gerbang majapahit

Salah satu pidato Founding Fathers kita Ir. Soekarno yang paling terkenal ialah JAS MERAH (Jangan Melupakan Sejarah) setujukan ?? Karena kita sendiri tidak mungkin ada tanpa sejarah. Pati sendiri dahulunya  bernama Pathi Pesantenan yang diberikan oleh Adipati Jayakusumo (BuPati I Pati). Sampai sekarang masih bisa di temui petilasan sejarahnya, yakni pendopo kabupaten lama, di dhusun Kemiri, namun sekarang pendopo tersebut telah beralih fungsi. Dan, pendopo kabupaten di pindahkan ke pusat kota. Selain itu, ada lagi situs sejarah yang masih sangat asli, yakni Gerbang Majapahit, konon katanya Gerbang tersebut original bagian dari kerajaan Majapahit yang di bawa oleh mahluk halus untuk di pindahkan, karena kecape’an akhirnya di letakkan dech di Pati. Soal budaya, Pati memiliki tarian khas lokal bersambanglah ke daerah Pati selatan dhusun Kropak, tarian “Tayub” di lestarikan sebagai khasanah budaya.

Selain warisan budayanya, Pati juga memiliki panorama alam yang indah. Semboyanya aja BUMI MINA TANI, pasti akan di temui luasnya hamparan sawah pertanian dengan pegunungan kapur di sebelah selatan sebagai latar belakangnya. Sedang di barat laut kota Pati, Gunung Rawa adalah daerah yang tak kalah indah untuk di kunjungi. Tak perlu jauh – jauh sampai ke Bedugul untuk menikmati danau kaldera, di Pati ada duplikatnya. Sebuah cekungan yang besar dan terisi penuh oleh air di saat musim penghujan dan agak dangkal di saat kemarau dengan tepi rumput hijau bak savanna di daerah Nusa tenggara tergambar jelas. Jangan lewatkan juga fenomena social sore hari di daerah ini. Kebiasaan yang sangat unik masyarakat dalam menggembalakan sapi. Secara bersamaan masyarakat sekitar akan melepaskan sapi – sapinya memamah biak rumput di padang hijau sekitar rawa. Beuuhhf,… jumlah sapinya sangat banyak, dan uniknya walau tanpa identitas sapinya ngak akan ketuker loh.!!!

Keeksotikan alam Pati nggak Cuma itu, di daerah Pati selatan ada daerah wisata Tadah Hujan dan Gua Pancur yang masih sangat alami. Pesona air terjun nan segar, dengan di kelilingi perbukitan hijau. Menengok ke Gua Pancur, maka kita akan di sambut dengan indahnya stalaktit dan stalakmit yang masih aktif. Gua air ini memang tengah di kembangkan sebagai daerah wisata. Kalau kita iseng naik ke atas gua ini, mitos bahwa dulunya Pati merupakan laut bisa di buktikan, sebab di atas gua bisa kita jumpai sebuah fosil perahu dan fosil – fosil kerang dari masa lampau.

Masih pengen jalan – jalan ? di daerah Pati Utara ada dua pabrik gula peninggalan Kolonial yang masih beroperasi hingga sekarang. Berjalan –jalan di sekitarnya sembari menikmati rumah loji pasti mengasyikkan. Serasa kembali ke tempo doeloe.

Selain wisata alam, bagi pecinta wisata bahari, jangan khawatir. Di bagian Pati timur,dengan mudah di temukan pantai – pantai yang masih alami. Di daerah Batangan misalnya, dengan menyewa perahu dari muara sungai Batangan kita bisa jalan – jalan menuju ke laut. Di sana ada pulau – pulau kecil yang sangat indah, masih perawan, dan tidak berpenghuni dengan tanaman bakau yang hijau mengelilinginya. Pasir putih dengan karang – karang di sekitarnya. Di ibaratkan jika pulau – pulau tersebut sebuah atom maka pasir putih, karang- karang dan pohon bakau ialah proton dan elektron yang membentuk atom tersebut. Di tambah lagi pemandangan biota laut seperti Aurelia (ubur – ubur) dengan berbagai spesies, dan ganggang saat membelah laut memberi sinergi kuat bahari yang menyenangkan. Bagi yang hoby memancing, memancing di tengah laut, dengan perahu yang di goyang ombak pasti memberikan sensasi tersendiri. So, tidak perlu jauh – jauh pergi ke Bali, karena daerah ini nggak kalah kok dengan Tanjung Benoa, bedanya Tanjung Benoa di kelola dengan baik sedang Pulau Gede dan teman – temannya masih belum di eksplorasi secara maksimal. Berjalan – jalan di tepi tambak garam saat sore hari, di temani kincir angin sembari melihat proses pembuatan garam bisa jadi alternative study wisata.

Masyarakat di sini hidup dalam damai dan keramahan yang khas, dengan corak pesisir yang kental. Sejenak jalan – jalan ke Pati tak mantap rasanya tanpa menikmati kuliner khas daerah. Nasi gandul yang menggoda selera, soto kemiri yang menggoyang lidah, empek – empek khas pati sampai es gempol yang segar. Atau, jika ingin lebih praktis datanglah ke pusat kota di kawasan simpang lima Pati. Sentra penting, yang menjajakan makanan khas daerah. Mau pilih apa aja, mulai dari putu ayu, gethuk lindri, sampai makanan berat, dengan mudah di temui harganya juga sangat ekonomis. Percaya dech, jajan disini nggak bakal bikin bangkrut (hehehehe). Sebagai oleh – oleh, batik Bakaran yang anggun, kuningan Juwana nan cantik, atau anyaman bambu yang unik bisa kita bawa pulang. Masalah makanan, bandeng presto bisa jadi buah tangan yang Yummy !! Bagi yang ingin bermalam, jangan khawatir di Pati banyak hotel – hotel kecil yang nyaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s