Dunia Maya Cepat Gandeng Popularitas

Dunia maya, bak sebuah oase di padang pasir yang tandus. Sedikit ilustrasi yang menggambarkan betapa kuatnya dunia maya saat ini sebagai suatu lingkungan baru dengan sistem – sitem yang luar biasa. Bahkan kemudian dunia maya seakan bisa mentransferkan sesuatu pada dunia nyata. Fenomena artis baru kemasan dunia maya santer memenuhi ruang publik.

 

Hebohnya video Norman dengan judul ”Polisi Gorontalo Menggila” telah ditonton 1.035.359 pengunjung (SM,09/04/11). Video bertajuk Polisi Gorontalo Menggila diunggah ke Youtube, 29 Maret silam dan diakses oleh masyarakat di segala penjuru negeri. Dalam video tersebut, Norman tampak sedang asyik berjoget dan membawakan lagu India di pos jaga (SM,07/04/11). Maraknya Udin sedunia yang menggemparkan bahkan sempat diisukan melanggar UU Penyiaran KPID NTB (SM,27/03/11) atau Shinta dan Jojo yang mendulang manis lewat video lipsing Keong Racun. Ingin yang lebih popular ? sebut saja Justin Bieber yang juga didengung – dengungkan bakatnya diunduh via dunia maya.   Semua karena dunia maya, dunia yang kemudian secara ajaib memperkenalkan mereka pada ruang publik.

Layanan mudah dan gratis untuk narsis dalam dunia maya memang banyak tersedia. Semua golongan dengan mudah dan gratis pula dapat menyambanginya. Munculnya artis dadakan lewat video virtual yang di upload ke situs – situs tertentu seakan marak bak jamur di musim penghujan. Namun, benarkah memang kemudian alih – alih pencarian bakat membuat setiap orang kemudian berlomba – lomba mencari kesohoran praktis melalui dunia maya ? Mungkinkah kemudian fenomena tersebut dapat menjadi indikator semakin meleknya masyarakat terhadap teknologi ? atau justru mengisyaratkan bila masyarakat terlalu terpukau dengan teknologi ?

Solusi Kreatif Populer

Dunia yang semakin dibuat hiperealitas oleh tiap mata yang menatapnya memang memungkinkan tiap orang tergiur atas iming – iming popularitas. Dengan kelebihan yang dimiliki tiap orang mencoba menawarkan dirinya sebagai bakat yang mampu dikembangkan dan menghibur. Dengan kesengajaan maupun tidak, tindakan mengupload diri kedalam situs publik merupakan upaya iseng yang diiringi keberuntungan terlihat kemudian membudaya karena serentetan artis dadakan via dunia maya baru – baru ini. Secara implisit fenomena tersebut sangat memungkinkan tiap orang yang ingin popular secara praktis melakukan cara yang sama dengan dunia maya. Hal ini berkaitan persis dengan kajian ilmu komunikasi tentang asumsi bila, manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang diberikan orang lain pada mereka. Dengan kata lain reaksi masyarakat terhadap artis dulangan dunia maya yang memberi makna respon positif secara otomatis dengan saat mudah mengakomodir jiwa – jiwa yang haus kepopuleran untuk melakukan perilaku yang sama. Senada dengan hal tersebut dunia maya terlihat menjanjikan seperti suksesnya Briptu Norman yang mana kemudian Kepolisian RI akan menyalurkan bakat anggota Brimob Gorontalo tersebut yang suka menyanyi. Dalam tayangan program televisi beberapa waktu lalu juga menyebutkan bila Udin Sedunia mencoba peruntungan agar keinginannya terkenal terkabul lewat jalan unggah video dalam youtube. Suatu solusi kreatif agar popular secara instan.

Jempol  Agent Kepopularitasan

Teknologi atau ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi “dewa” serta fokus di Indonesia ketika BJ Habibie, menteri Negara riset dan teknologi pada masa pemerintahan Soeharto, mencanangkan program pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kepentingan percepatan laju pembangunan. Ilmu pengetahuan dan teknologi dijadikan prioritas untuk menambah daya keunggulan dan kemampuan bersaing bangsa ini (SM,11/04/11). Misi dan visi pak Habibie kemudian memberikan akses agar teknologi menjamah rakyat Indonesia yang ketika itu masi buta aksara dan buta teknologi. Hingga kemudian di era reformasi semakin pesat dan terlihat hilang kendali sehingga kemudian teknologi diserap masyarakat tanpa berbekal cara menerima dan pola fikir yang tepat. Kemajuan sarana komunikasi yang modern seakan membuat masyarakat berlomba – lomba mengexplore kapasitas yang ditawarkan situs – situs tersebut. Akan tetapi pertanyaanya, bagaimana kemudian bakat yang dinilai potensial hanya berbekal jempol – jempol dalam situs – situs tertentu secara instan kemudian diakui kualitas dan kuantitasnya. Ataukah memang ini refleksi dari demokrasi kebiasaan pemilu yang membudaya. Sehingga apapun yang divote oleh banyak orang secara umum diklasifikasikan sebagai hal yang luar biasa.

Sebuah Agenda Setting

Sejalan dengan maraknya artis dadakan karbitan dunia maya itu bisa menjadi bagian dari refleksi teori komunikasi tentang agenda setting. Dimana teori tersebut merupakan kajian dimana media menyusun agenda fenomena artis dadakan karbitan dunia maya yang terkait dengan kepentingan publik, dan diharapkan yang disusun media sesuai dengan wacana public. Fenomena tersebut disusun oleh agenda masyarakat dari kebiasaan mereka mengunduh dan mengunggah video tertentu. Masyarakat, pada hal ini dalam cluster tertentu mengharapkan agar agenda media mendukung hingga adanya kebijakan-kebijakan tertentu dalam hal ini bisa diasumsikan sebagai suatu keputusan khalayak luas bahwa mereka (dalam cluster tertentu) layak untuk menjadi terkenal.

Kuatnya fenomena ini takkan berlangsung lama jika kemudian agenda media dan agenda public tak lagi sejalan dengan harapan mereka. Kesuksesan meniti karier dengan bakat yang didengung – dengungkan berpotensial itu juga akan jadi angin lalu bila tidak diimbangi dengan kualitas yang memadai untuk bersaing di pasar hiburan yang silih berganti chanel. Bukankah teori revolusi Charles Darwin akan tetap berlaku bahwa, siapa yang paling pintar, lama dan sanggup beradaptasi dengan baik, dialah yang akan bertahan hidup dan lolos seleksi alam.

Pendidikan Melek  Teknologi informasi

Upaya pemerintah demi kemajuan bangsa dengan teknologi perlu adanya pemahaman lebih khusus.

Jangan sampai kemudian masyarakat berbondong – bondong belajar teknologi akan tetapi masi memakai paradigma yang bukan seanggih teknologi (masi “ndeso”). Penyaringan secara bebas tanpa batasan koridor tertentu akan menciderai budaya bangsa. Seperti dikatakan Peter Dahlgren (1991:192), realitas sosial, menurut pandangan konstruktivis (fenomenologis), setidaknya sebagian, adalah produksi manusia, hasil proses budaya, termasuk penggunaan bahasa. Dalam ungkapan Dennis McQuil, media massa merupakan filter yang menyaring sebagian pengalaman dan menyoroti pengalaman lainnya sekaligus kendala yang menghalangi kebenaran (Lihat Littlejhon, 1996:324). Dengan kata lain media bukan hanya sekedar menyampaikan, melainkan juga menciptakan makna (Deddy Mulyana, 2008:13).

Pembekalan pengetahuan yang cukup tentang teknologi secara wajar dapat menekan ketertegunan masyarakat terhadap teknologi. Terlebih saat ini internet sangat mudah diakses oleh semua kalangan mulai dari anak – anak hingga dewasa. Sudah sepantasnya jika  masyarakat mengerti betul tentang teknologi serta pernak pernik didalamnya, paham dengan apa yang semestinya menjadi keputusan atas tindakan mereka terhadap teknologi. Bukan kemudian pure menerima teknologi hingga mudah memberikan jempol – jempol iseng – iseng berhadiah. Kemudian bila jempol berhadiah banyak akan secara otomatis di idolakan.

Namun, mungkin bisa jadi inilah momentum yang tepat bagi tiap orang untuk mengkombinasikan “mumpung” agenda media dan agenda publik tengah asyik dengan bakat – bakat dari dunia maya, maka unggah, upload, unduh dan jempollah sebayak mungkin. Iseng – iseng berhadiah, jika mungkin bersambut sebagai awal tangga menuju kesuksesan.

 

____Arfika Pertiwi Putri, Mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi universitas diponegoro Semarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s