Teori Komunikasi Bukan Isapan Jempol Orang Sosial Semata

Studi ilmu komunikasi ialah salah satu studi yang kini semakin naik daun di berbagai kalangan. Tak hanya calon mahasiswa, yang setiap tahunnya berlomba – lomba memperebutkan kursi dalam jurusan komunikasi.

Meskipun demikian, tak sedikit pula orang – orang yang mencela prodi favorit mahasiswa ilmu sosial dan ilmu politik ini. Cela itu lebih pada ketidaktahuan apa yang ada dalam ilmu  komunikasi, bagaimana ilmu komunikasi serta apa ilmu komunikasi. Mungkin mereka geli mendengar “saya kuliah di jurusan komunikasi,” dalam batin mereka yang tak mengerti akan berkata “kuliah mempelajari berbicara? Bukankah semenjak kecil kita sudah bisa berbicara?” tandas mereka tak mau tahu.

Lebih ironi lagi kala berhadapan dengan orang – orang yang tak begitu bijak dan mengaku berlatar ilmu alam. Dengan gaya botak ala profesor jenius, mereka yang tak lebih tahu dari yang mencoba tahu akan menganggap remeh dan enteng tentang sosial, apalagi komunikasi yang terbilang belum setua teori gravitasi yang ditemukan tak sengaja oleh Newton, tak selama penemu aljabar yang berhasil menonjolkan variabel x dan y. Terlebih ketika tak ada seperti perhitungan momentum oleh anak tehnik dengan rumus P = M.V, bahwa mencari momentum bisa di hitung dengan massa kali kecepatan.

Memang tidak dapat dipungkiri bila ilmu alam lahir terlebih dahulu daripada ilmu sosial (termasuk ilmu komunikasi). Namun, meskipun bukan berupa angka, sesunggunya tak kurang ada banyak rumus kehidupan real nyata yang bisa dipaparkan oleh komunkasi. Studi yang terus berkembang ini, memiliki teori komunikasi yang diteliti dengan seksama oleh pendahulunya. Membangun asumsi – asumsi yang menakjubkan, konsep dan tradisi yang luar biasa, tanpa menanggalkan realitas. Teori komunikasi juga menyimpan paradigma, cara pandang manusia tentang perilaku, kebiasaan. Bukankah paradigma merupakan hal yang penting bagi manusia, sebagai cara pandang seseorang terhadap sesuatu yang mana paradigma merupakan tradisi intelektual yang mendasari teori – teori tertentu3. Bahkan, paradigma memberikan arahan kepada peneliti untuk bekerja saat ini (Rakow & Wackwitz, 2004).

Teori komunikasi mungkin tidak berbicara tentang angka, tidak memberikan perhitungan signifikan mengenai benda seperti gaya tarik menarik pada magnet, atau mengkaji perbesaran benda dengan lensa okuler. Bukan pula memprediksi berapa lama sebuah beton mampu menopang sebuah bangunan, tidak juga menganalisis tentang rumus segitiga. Namun, teori komunikasi merupakan pengetahuan yang bisa dirasakan dan diamati pergerakannya dengan salah satu objeknya, yakni manusia. Diperlukan kepekaan rasa dan suasana untuk mengamati pepindahan simbolik menjadi suatu makna, diperlukan pengasahan sosial bahwa terdapat situasi dengan kecemasan tertinggi. Bahkan bisa jadi teori komunikasi lebih dari sekedar penerjemahan kode biner 1-0-0-1-1-0.

Teori komunikasi menjelaskan lewat observasi masalah sosial nyata dan laten dengan objek kajian manusia. Tak sedikit orang yang tidak mengetahui tindakan mereka merupakan bagian dari pengetahuan komunikasi. Bahwa tak hanya ilmu alam yang berhubungan dengan keseharian manusia, seperti berapa kecepatan motor yang membawa mereka ke tempat kerja setiap harinya, tak hanya penggunaan azas black yang mengkalkulasi berapa kalor yang dibutuhkan untuk memanaskan air dan mendinginkan secangkir kopi.

Teori komunikasi merupakan pengetahuan yang modern yang dapat menjawab realitas – realitas sosial, bukan hanya pembicaraan, bukan saja kebiasaan namun juga simbol. Bukan sekedar berdiri fokus mengkaji satu personal, namun juga antar personal bahkan kelompok serta masyarakat.

Teori komunikasi merupakan studi yang secara gamblang mewujudkan hal tersebut. Sebagi sebuah ilmu, komunikasi memiliki 2 objek material komunikasi. Material pertama adalah masyarakat dan objek kedua ialah media (Abrar. 2003 : v). Dalam hal ini yang akan dibahas ialah objek pertama, yakni masyarakat (manusia).

Di dalam teori komunikasi terdapat peneliti yang menjadi subjek yang mengetahui, meneliti, mengkaji teori komunikasi, dan dalam teori komunikasi sendiri melibatkan manusia sebagai objek yang diketahui. Misalnya saja teori interaksi simbolik (symbolic interaction theory), teori yang didasarkan pada penelitian George Herbert Meed.

Teori ini mengemukakan beberapa tema penting dan asumsi – asumsi. Salah satu tema yang dikemukakan ialah, pentingnya konsep mengenai diri dengan asumsi yang dijabarkan individu – individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain, konsep diri memberikan motif penting untuk perilaku.

George Herbert Meed ialah subyek yang mengetahui (the knower), mengetahui bahwa terdapat gerakan, kegiatan yang menunjukkan bila konsep diri penting dimiliki oleh objek yang ia teliti. Kemudian ia juga mampu mengamati bila konsep diri memberikan motif penting objeknya untuk berperilaku. Kemudian persis, pihak dari objek dalam hal ini manusia diketahui. Diketahui pengembangan interaksinya, diketahui terdapat diri objek diketahui nyata bentuknya. Secara tidak langsung manusia memang merupakan realitas alam, interaksinya mampu diamati dan hal ini terbaca oleh Meed. Seperti yang di tuturkan oleh Hamijoyo (2005) objek material komunikasi ialah perilaku manusia, yang dapat merangkum perilaku individu, kelompok dan masyarakat.

Teori komunikasi jelas bersifat umum karena objeknya sendiri ialah manusia, dan hubungan antar manusia. Selanjutnya, teori komunikasi merupakan ilmu pengetahuan yang telah diterjemahkan dalam tulisan yang diabadikan oleh para penelitinya. Kemudian dipelajari oleh semua orang dan lolos pengujian waktu. Contohnya, pada teori pengurangan ketidakpastian yang diteliti oleh Charles Berger dan Richard Calabrese. Teori yang fokus terhadap mengurangi tingkat ketidakpastian karena ketidakpastian menyebabkan ketidaknyamanan berhasil menerjemahkan beberapa aksioma – aksioma pada kriteria konsistensi logis. Bahkan, teori ini juga tetap dapat digunakan untuk kajian di masa kini, tiga puluh tahun sejak dicetuskannya sehingga teori ini memenuhi pengujian waktu.

Jika peribahasa mengatakan bagai menangkap asap, yang berarti sesuatu yang sangat sulit. Tetapi, teori komunikai bisa menangkap semua itu bahkan menyajikannya dalam bentuk asumsi teoritis. Teori komunikasi dengan seperangkat persimoni yang ia sandang, memberikan jawaban bagi masalah sosial laten yang sering disepelekan oleh manusia. Sehingga, mana mungkin teori komunikasi hanya gertak sambal olahan pendahulu komunikasi.

Teori komunikasi adalah cerminan abstrak yang diraba untuk sebuah realitas tanpa menyepelekan interaksi. Maka jelaslah kiranya berdasarkan penjabaran yang telah tersampaikan, manusia merupakan objek kajian ilmu komunikasi. Teori komunikasi tidak mungkin terwujud apabila manusia tidak menjad subjek dan objek penelitian.

Selanjutnya, teori komunikasi hanya sedikit bagian kecil yang terbentuk karena adanya subyek yang mengetahui (the knower) dan obyek yang diketahui (the known). Subyek dari pengetahuan adalah manusia, dan obyek pengetahuan adalah manusia.

Happy communicating ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s