Hukum Pembiasan Cahaya, Representasi Media Massa

 

 

 

 

 

 

 ( cahaya datang dari medium rapat ke renggang, maka akan dibiaskan menjauhi titik normal)

 

 

Teknologi atau ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi “dewa” serta fokus di Indonesia ketika BJ Habibie, menteri Negara riset dan teknologi pada masa pemerintahan Soeharto, mencanangkan program pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kepentingan percepatan laju pembangunan. Ilmu pengetahuan dan teknologi dijadikan prioritas untuk menambah daya keunggulan dan kemampuan bersaing bangsa ini (SM,11/04/11). Seirama dengan yang diungakapkan Everett. M.Rogers (1986) dengan memusatkan perhatian pada peran penting tehnologi, dituliskan pada bab 2 : Teknologi merupakan penyebab perubahan sosial penting yang terjadi dalam suatu bangsa. Determinism teknologi merupakan derajat untuk melihat bahwa teknologi merupakan penyebab utama perubahan sosial dalam masyarakat. Walaupun sepenuhnya diakui, tetapi pada saat yang bersamaan hadirnya media baru telah membentuk masyarakat informasi, bersama dengan factor – factor lain1. Rogers selanjutnya membagi empat era dalam evolusi komunikasi manusia secara kronologis, yakni era  Saat dunia tengah berada di tahapan ketiga dan keempat, yakni telekomunikasi dan komunikasi dua arah. Kemudian perubahan peradaban yang kian pesat telah melahirkan berbagai inovasi dalam dunia komunikasi.

Pesatnya perkembangan dunia komunikasi pastilah berbanding lurus dengan perkembangan media. Terlebih di era modern yang serba bisa seperti saat ini, semua lapisan masyarakat seolah bermetamorfosa menjadi masyarakat informasi. Kemudian melengkapi makna komunikasi massa yang diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khlayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama diterima secara serentak dan sesaaat2. Kita tidak hanya hidup di era “keberlimpahan komunikasi” sebagaimana yang digambarkan oleh Frederick Williams dalam bukunya The Communications Revolution (1982), tetapi kita benar – benar tengah mengarungi apa yang disebut John Keane sebagai era “keberlimpahan komunikasi” (communications abundance) atau “tumpah ruah komunikasi” (cornucopias of communications) (Ibrahim, 2004: xxviii). Sebagai bukti otentik ialah dengan banyaknya stasiun televisi dengan berbagai content, banyak variasi, puluhan koran, berbagai media baik secara visual, audio, elektronik maupun cetak.

Saat ini terdapat banyak program kreatif, informasi yang informatif diciptakan oleh media. Yang menonjolkan fungsi dari media sendiri, mulai dari fungsi surveillance (pengawasan), interpretation (penafsiran), linkage (pertalian), transmission of values (penyebaran nilai – nilai), sampai entertainment (hiburan). Berbagai fungsi itu memang secara tidak langsung mengandung arti adanya suatu kekuatan yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Salah satu prinsip komunikasi adalah bahwa komunikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan (Mulyana, 2000:99).  Namun, berbagai hal yang dihimpun dalam media yang seolah memotret segala sesuatu dalam lensa dan menghadirkannya dalam sebuah kotak. Pada pengamatan isi dari media bukanlah suatu cerminan realitas sosial masyarakatnya. Tidak semua isi dari media adalah cerminan kondisi real di masyarakat. Dalam media memiliki kemampuan bias, kenapa berpotensi bias? Karena media pada faktanya memiliki berbagai kepentingan.

Bias dapat diartikan sebagai kabur, atau tidak bisa mencerminkan seutuhnya sesuatu  kenyataan. Seperti hukum pembiasan cahaya dalam ilmu alam, yang menyebutkan cahaya yang datang dari medium rapat ke medium renggang akan dibiaskan menjauhi garis normal.

Dalam ilustrasi representasi ini, media adalah medium rapat yang syarat kepentingan mulai dari ekonomi, kapitalisme, komodifikasi, politik dan kekuasaan, pengaruh kaum dominan dsb. Sedangkan medium renggang adalah masyarakat luas yang tidak mengerti hal – hal yang tersembuyi dalam media dan konstruksi seperti apa yang hendak mereka retas. Karena berbagai faktor yang ada kemudian banyak hal dalam media yang dibelokkan, dibiaskan dari garis normal yang sesungguhnya. Kekuatan utama media terletak pada fakta bahwa media dapat membentuk apa yang diketahui masyarakat dan dapat menjadi sumber berpikir dan bertindak (Burton, 2008:2)

Contoh studi kasus bahwa peneliti – peneliti telah mempelajari seberapa dini pengaruh menonton televisi terhadap sikap dan perilaku (Morgan, 1982, 1987).  Dunia televisi dan media massa lain juga lebih cenderung menggambarkan fisik yang baik ialah fisik dengan kulit bersih. Bukan sawo matang seperti yang umumnya ada sebagai wujud asli ras Indonesia. Banyak eksperimen yang menunjukkan bahwa kebanyakan orang dalam suatu situasi sosial hanya mau melihat dan mendengar apa yang mereka harapkan. Bila yang kita inginkan/harapkan tidak terjadi, maka kita akan ngotot (Allport dan Postman, 1947). Disinilah terjadi sinkron antara situasi sosial, prasangka yang dibentuk oleh kelompok dominan untuk menyerbu main set masyarakat berkenaan dengan kulit mereka. Dan, begitulah representasi media terhadap dunia nyata.

Hingga sekarang valensi informasi semacam  itu terus diperkuat oleh media dengan berbagai cara membombardir masyarakat. Hingga hal – hal kecil yang sebenarnya dapat mematahkan asumsi itupun tidak berguna. Misal, persoalan mitos kecantikan  : sebenarnya bukankah kemenangan miss Angola pada ajang miss World 2011 bisa menjadi suatu acuan perspektif yang baru? Namun, nyatanya hal itu memang tidak ada gunanya karena media telah berhasil menkonstruksikan yang diinginkan oleh kaum dominan.

Bahkan media kemudian bisa saja mengkaburkan ruang privat dan konsumsi publik, menyamarkan mana frontstage dan mana backstage. Agen – agen yang saat ini dalam eforia pembiasan itu misalnya adalah artis – artis papan atas yang tengah naik daun. Yang mana seolah mereka memainkan pentad dalam teori dramatisme dengan cara yang sempurna. Ada tindakan – tindakan yang sangan tidak lazim menjadi lazim, ada adegan yang menjadi titik media untuk direpresentasikan, ada agen yang menjadi pemain utama, ada agensi (yang merujuk pada cara – cara yang digunakan untuk menyelesaikan tindakan), ada pula tujuan dan sikap. Saat ini justru banyak media yang menjual content semacam itu, seperti pada tayangan infotaiment yang menampilkan artis – artis yang sedang berlibur dengan kekasihnya, yang bercerai lewat jejaring sosial, yang sedang putus cinta dan banyak lagi backstage yang kemudian menjadi fronstage.

Isu tentang media bias berfokus pada operasi berita yang mereka lakukan. Bias dalam media cetak dapat tertangkap dengan adanya pelbagai pandangan editorial dalam surat kabar, headline yang ditonjolkan,  target audiens dsb. Bias dalam media penyiaran lebih merupakan suatu isu karena jenis berita ini berusaha secara serius untuk mencapai impartialitas dan netralitas (Burton, 2008 : 199). Sumber informasi memang kredibel akan tetapi dalam pembentukan framing oleh mereka kemudian membiaskan. Item berita dapat mengalami framing dengan program, durasi penayangan, narasi pembaca berita dsb. Framing ini mengindikasikan bahwa konstruksi sosial justru dibentuk oleh media.

Seperti asumsi kedua teori analisis kultivasi bahwa televisi membentuk cara berpikir dan membuat kaitan dari masyarakat. Dasyatnya kemudian bahwa media sangat memungkinkan memberikan efek, seperti efek jangka pendek, efek jangka panjang, teori inokulasi, efek kultural dsb. Efek kultural yang tengah melanda seantero pelosok negeri misalnya boomingnya korea di tanah air, tidak hanya drama korea, boy band girl band namun hingga muncul berbagai imitasi pada budaya korea.

Dengan hadirnya banyak media menjadi audiens yang selektif, bijak memahami media adalah yang dibutuhkan saat ini. Pembiasan media dapat saja diminimalkan dengan tidak percaya hanya pada satu media, melakukan berbagai referensi media lainnya. Di era keberlimpahan komunikasi seperti ini dengan berbagai kepentingan memang selayaknya kita tidak memakan mentah – mentah yang disodorkan media. Be smart!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s