Hujanpun Turun Pagi ini

(“Jika ku bisa, ku ingin rasaku seperti hujan. Mereda setelah mendung berganti”My Quote)

Semua benar – benar ramai, teriakan, tawar menawar dan orang yang saling berbincang. Dan, Kinai malah asyik memaku buku di sudut ruangan. Aktivitas yang menyekatnya berhari – hari membuatnya ingin bersantai sejenak bila ada kesempatan.

“Butuh sedikit ruang untuk menghibur diri,” begitu batinnya. Dan, kali ini pilihannya dengan membaca novel baru pemberian kawannya, Hujan dan Teduh.

Tadi sebelum meninggalkan kost Kinai menyempatkan berdiri menatap langit. Cerah. Awal musim penghujan selalu memberikan suasana segar dan harapan baru untuk kehidupan. Anginpun berhembus semilir memainkan gorden di daun pintu balkon. Arak – arakan awan memenuhi atap langit, bentuknya seperti sapuan warna putih tipis dengan dominasi warna biru diantaranya.Selamat datang pagi, have nice day!”  begitu sapanya pagi ini berbisik pada angin. Kinai sangat menyukai alam, hujan, gerimis, langit, dan segala yang berhubungan memberikan sebab dan akibat.

Kinai masih sibuk dengan novel di pangkuannya. Ia tak berselera menanggapi orang – orang. “Biarlah teman – teman yang lain saja, toh semalam aku dah lembur bikin leafleat,” belannya tak mau tahu.

Kepadamu. Aku menyimpan cemburu dalam harapan yang bertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu.

Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka. Dan, kebersamaan cuma memperbanyak ruang tertutup. Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya, jalanmu dan jalanku. Meski, diam – diam aku masih saja menatapmu dengan cinta yang malu – malu.

Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Seperti itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu – abu.

Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan*…..

Kinai menghela nafas membaca paragraf demi paragraf novel tersebut.

“Hhhh.. mungkin seperti itu juga aku dan dirimu,” batinnya meresapi sesuatu. Sebenarnya Kinai tidak lagi sering membaca novel percintaan. Hari – harinya sudah dihabiskan untuk berbagai kegiatan kuliah, seminar, rapat organisasi dll. Semua itu memang sengaja. Agar tiada lagi ada perhatian untuk lainnya yang bisa menjadikan kegalaun. Dia.

Tiba – tiba Handphone-nya bergetar……

Ada sensasi terkejut dari stimulus yang baru saja dia terima. “Tumben, sms aku. Ada apa?”, gumamnya tergesa dan tanpa ragu membuka sms di layar handphone.

From     : U

           Gak Kuliah?

                Aseekk… hahaha

Kinai  kemudian mengedarkan pandang. “Jangan – jangan dia disini,” ujarnya menerka. Perasaannya bergejolak, ada sesuatu. Gerimis.

Ia kemudian membalas, menanyakan kebenaran dugaannya. Dan, benar saja. Kinai kemudian beranjak dari tempat duduknya, ia mencari sesuatu. Lama ia mencari diantara kerumunan lautan manusia di sana. “Acara ini sepertinya sukses. Ramai banget. Dimana dia? Dimana?” tanyanya pada dirinya sendiriyang masih sibuk mencari.

To           : U

                Kamu kesini? Emang kamu sekarang dimana?

Bergetar kembali …

From     : U

                Haha, santai aja😀

                Lagi muter – muter (sok bgt)

                “Ah… selalu saja begitu,” sergahnya memandang layar handphonenya. Beberapa detik kemudian dia melihat kilatan sesuatu.

                “Yeap….” ia menjentikkan jari. Ketemu.

                “Sapa nggak? Samperin nggak ya?” ia berdialog dalam kebisuan lagi. Lama sekali ia memutuskan. Kinai berdiri mematung. Selama ini mereka sebenarnya sering bertemu namun, sering tak menyapa. Gegsi, pura pura.

                “Hay Kinai, apa kabar?” sapa seseorang.

                “Hay Uli…!!” akhirnya Kinai justru berbincang dengan seorang juniornya. Cukup lama. Namun tetap memperhatikan. “Please, jangan pergi dulu!” harapnya dalam hati sembari terus berdialog dengan Uli.

                “Hm….” akhirnya ia memberanikan langkah.

                Jarak yang hanya beberapa meter itu seperti sangat lama. Masih ragu dan gengsi. Tapi, kapan mau sampai kapan.

                “Hay!” ia menepuk dari belakang. Senyum laki – laki mengembang menyambut tepukannya. Gerimis semakin menderas.

                “Astaga, jadi dia tadi mampir? Dan aku nggak tahu?” gagapnya ketika melihat laki – laki itu menggenggam leafleat buatanny semalam. Senang, hujan menderas. Merekapun bercakap seperti tidak pernah terjadi apa – apa. Hanya kawan yang lama tak berjumpa. Mengalir begitu saja.

                “Beginilah memang kita sebenarnya, baik – baik saja. Tapi, mengapa oh mengapa waktu itu kita memilih untuk ….. AH.. sudahlah…”, batinnya sembari  terus bercakap dengan laki – laki itu. Hujan pun turun deras pagi ini, membawa butiran kesegaran. Ada energi lain hari ini.

              “Jika ku bisa, ku ingin rasaku seperti hujan. Mereda setelah mendung berganti,'” menengadah ke langit bisikku ketika hujan benar – benar menuruni atap kotaku.

 *Kutipan dari Novel “Hujan dan Teduh” oleh Wulan Dewatra 

23 Bulan Hujan ‘11

Tercipta, terangkai begitu saja

Di Gedung yang sama

L and L  to  you

Now, its impossible

3 thoughts on “Hujanpun Turun Pagi ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s