The Drizzle’ January

Aku hanya tersenyum melihatnya dari sudut jendela kereta. Sore, sebelum aku kembali pulang ke kotaku. Tanyakan siapa dia yang berdiri disana memandangku dan menunggu gerbong tua ini menghilang ditelan jarak. Tanyakan dia yang tangannya sedang menatap lekat jedela ini menungguku membalasnya. Aku akan menjawab, kami hanya berteman. Aku dan dia hanya dua bukan satu. Aku dan dia adalah jiwa yang tidak pernah mengerti apa itu ‘cinta’.

Akhir pekan ini moodku berantakan, liburan membuatku sepi dari pekerjaan. Sekedar menjadi guru privat dan sesekali berjalan – jalan membuatku sedikit bosan.  Hingga pilihan terkahir ku putuskan datang kepadanya. Datang ke kota itu, kota asing yang dulu ku kenal sangat jaim.

Aku datang, hujan menyambut. Dan, dia datang tergopoh membawa payung. Aku tertawa, “hey kau terlihat lucu memakai payung itu.” Dia hanya tersipu. Tak banyak berkata, hanya sedikit berkilah dan menanyakan mau makan dimana. Segera kupungut tangannya yang bebas dari genggaman payung. Hangat.

Dia tak akan banyak bertanya, dia sudah mengerti bahwa aku sedang tak enak hati. Dia hanya membawa cone tumpukan es krim coklat dan vanilla lumer, mencair. Seperti itu aku dia. Lumer dan sangat menyenangkan.

Dia tau siapa aku, aku yang tak pernah move on. Aku yang takut move on. Dan, mungkin dia juga tau aku belum bisa percaya padanya. Lalu, apa yang terjadi sekarang? Dengan demikian aku juga tak percaya padanya? Padahal habis – habisan aku bisa bercerita padanya.

Dulu sekali aku pernah ia minta menjadi kekasihnya, tapi aku tak mau. Bukannya aku menolak, aku hanya berkata ‘aku tak ingin jadi pacarmu, aku maunyajadi istrimu’, sambungku tertawa melihat sorot matanya. Ketika itu aku baru saja putus dengan seorang, laki – laki konservatif. Laki – laki yang hingga sekarang membuatku belum ‘move on’.

Tapi, aku dan dia masih dekat. Sampai akhirnya jejaring sosial mengatakan ia berpacaran. Sulit ku terima dan ku percaya, tapi itu nyata. Aku kehilangan, aku juga yakin setelah ini pasti kami jauh. Pacarnya cemburu. Wanita mana yang rela melihat kekasihnya dekat dengan wanita lain, wanita mana yang tidak akan cemburu melihat kekasihnya terhubung dalam saluran telephon dengan wanita lain. Kamipun tak lagi dekat waktu itu.

“Hey Jelek! Melamun saja! Makan!” pintanya membuyarkan lamunanku. Berlatar hujan dan lampu kota kami menikmati malam. Kamipun bersenandung bersama hujan, berkeliling kota, mengabadikan waktu.

“Kenapa kau menolakku waktu itu? Apa kurangnya aku, ganteng, berpenghasilan, mapan,” sergahnya sembari duduk di pinggir pantai kotanya.

“Menurutmu?” tanyaku balik tak ingin menjawab.

“Karena kamu jelek,” ejeknya sembari menenggelamkan kepala dalam tangkupan tangannya dan mengintip wajahku yang memerah namun terbahak.

“Hm.. karena aku tak yakin atas perasaan itu. Aku tak yakin kamu secinta dan sesayang itu. Karena, aku merasa ada satu bayang yang paling kamu cinta. Meski aku tak tau itu siapa. Dan, aku yakin kamu dan Nagita kemarin bukan cinta, tapi suka,” jelasku serius tak seperti biasa. Tak seperti biasa. Karena, biasanya kami ngobrol tidak penting. Hanya sekedar sepatah dua patah kata. Selebihnya, sepi, ramai dan bisu. Kami hanya menikmati.

Sunyi. Diam.

Kini usianya dan usiaku bukan seperti dulu SMA.

Hujan Januari. Kemana muaramu. Ia hanya terpaku dan menatapku sayu.

“Jangan ragu…” genggamnya membisikkan sesuatu.

My corner, MID Night


16 Januari 2012

After Talks u More than Words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s