#labalaba 1 | Belajar Menjadi Pengajar, Belajar untuk Belajar

Awal masuk kuliah pernah ada kepinginan untuk bisa freelines, terlebih saat seorang teman kemudian menjadi seorang tentor les privat dengan gaji yang lumayan. Asli jadi pengen juga, gimana rasanya cari duwit sendiri.

Tenggelam dalam perkuliahan dan mulai mencari kegiatan, lupalah keinginan itu. Sampai suatu hari ada sms masuk yang menawarkan untuk menjadi tentor les privat. Tentunnya ku sambut dengan senang hati dan riang gembira. Tak kusangka bahwa kegiatanku dalam sebuah organisasi membawaku pada jariangan #labalaba itu. Bahwa, yang menawari itu adalah seniorku dalam sebuah organisasi. Kalau boleh berkata, benarnlah jika silaturahmi (#labalaba) sangat mungkin membukakan rezeki untuk kita.

Murid pertamaku adalah seorang gadis kecil kelas 3 SD bernama Naraya (Aya). Awal mengajar sebetulnya aku gugup dan tidak percaya diri. Ketika pertama kali ku datang, ku bawakan dia hadiah. Suatu metode ampuh untuk memberikan kesan pertama. Bukankah kesan pertama memang menentukan?

Belajar Bersama Naraya

Pertemuan demi pertemuan kemudian terjadi, dan semua baik – baik saja. Kecuali  satu. Nilai – nilai Aya. Baru ku tahu Aya memang tidak semudah yang aku pikirkan. Mengajar anak kelas 3 SD pastilah bukan hal yang sulit. Matematikanya hanya seputar perkalian, pembagian dan pengenalan pecahan. IPA maupun IPSnya masih aku pahami. Bekal sekolah selama 15 tahun ku rasa cukup untuk mengerti dan paham pelajarannya.

Hafalan Perkalian

Namun, kesulitan bukanlah datang dari sisiku. Tapi, Aya sendiri. Belakangan ku ketahui Aya memang bukan tipe anak rajin yang suka belajar. Perkalian dia belum hapal, hal yang membuat aku balik mengingat kebiasaan kelas 2 SD yang menghadapi tembok kamar untuk menghapal perkalian dengan suara keras – keras. Dan, satu pelajaran pertama ku temukan. Nanti kalau aku punya anak, sejak kecil akan aku tekankan untuk hapal perkalian. Maximal kelas dua dia sudah hapal perkalian. Dan, sejak hari itu aku mulai men-drill Aya dengan hafalan perkalian.

Memahami Bacaan, Terimakasih Bobo

Ternyata kenyataan tidak berhenti disitu saja. Dalam matematika yang  berantakan dan perlu di tentor ulang. Aku mulai berpikir, mungkin dia lebih pandai dalam sosial. Karena, biasanya anak – anak yang tidak pandai matematika lebih menonjol aspek sosialnya. Akan tetapi, hal lain membuat aku shock. Ternyata dia juga tidak lebih faham akan kata dan kalimat.

Percobaan pertama saat itu ialah pelajaran bahasa jawa, yang tersirat dalam pertemuan itu ialah ia tidak bisa memahami bacaaan. Awalnya aku kira itu karena bahasa jawa, ya mungkin kalau bahasa jawa anak Semarang kurang paham karena terbiasa dengan bahasa Indonesia. Tapi, nyatanya aku salah. Aya memang kurang memahami bacaan. Terlihat ketika mengerjakan PR bahasa Indonesia dia tidak mengerti apa yang dia baca, dia kesulita bercerita kembali apa yang baru saja ia baca.Bahkan dia kesulitan untuk mengeja kata – kata dengan huruf mati seperti, “NGAMEN, NGELAMUN, SYURO” dsb. Dia juga tidak memperhatikan tanda baca sehingga selepas titik (.) ia langsung saja, jika ada koma (,) dia juga tidak perduli.

Dari bagian itu aku jadi flash back, terimakasih untuk Majalah BOBO yang membuatku senang membaca. Terimakasih bapak ibukku yang setia membelikan aku BOBO. Dan, model pembelajaran yang kemudian aku berikan pada Aya adalah membawakannya cerita – cerita kemudian memintannya untuk menceritakan kembali isinya, menyebutkan siapa saja tokoh didalamnya pertanyaan 5W  1H.

Kejadian itu juga membuatkan bertekad, nanti jika aku punya anak. Akan aku didik mereka untuk gemar membaca. Pandai dengan angka bukan berarti tidak memahami huruf.

Kekuatan Visual

Mengajar Aya bukan sesuatu hal yang mudah (maaf). Selain karena Aya yang malas, dan sering ogah itu memicu aku untuk tak bersemangat mengajar. Feedback yang dia berikan tidak menstimulus untuk semangat mengajar. Lebih pada menguji kesabaran. Bahkan pernah saking jengkelnya, aku meninggalkan dia karena dia ngambek tidak mau belajar.

Perjalanan setiap dua kali seminggu bersama Aya membuatku belajar banyak hal. Salah satunya ternyata dia lebih mengerti segala sesuatu dari gambar. Mungkin karena lebih mudah dilihat dan dipahami oleh anak – anak yang jarang mengelola imajinasi secara khayalan. Akhirnya metode baru aku terapkan. Jika ia memasuki suatu bab, terutama pada pelajaran IPS dan IPA aku membuat power point sesuai bab-nya. Sehingga ia menjadi tertarik karena ada gambar, sehingga ia menjadi memahami. Salah satu bab yang baru aku buat adalah, Energi untuk pelajaran IPA dan Macam – Macam Pekerjaan untuk IPS.

Setiap perjalanan di dunia ini memang menyimpan banyak sari pati. Semua adalah simbiosis yang saling berkaitan. Aku dan Aya juga demikian. Aya memang belajar dariku, tapi aku juga sesungguhnya belajar dari Aya. Belajar memahami dan menyadari cara pendidikan untuk anak – anak. Bahwa aku juga harus memberikan pendidikan yang tepat dan paling baik untuk anak – anakku. Sehingga mereka cerdas dan berakhlak mulia. Pintar angka dan pintar membaca. (Arfika)

5 thoughts on “#labalaba 1 | Belajar Menjadi Pengajar, Belajar untuk Belajar

  1. anakku telah tau, betapa dunia ini makin dijelajahi makin maya, makin banyak yang terus digali di berbagai tempat, berbagai kehidupan, berbagai waktu dan berbagai – bagai lain.
    anakku telah menyadari bahwa hidup bukan utuk sendiri, tetapi untuk kehidupan bersama antara diri sendiri, mereka dan lingkungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s