ROMAN PELARIAN

Matanya sesak, lama tercenung dalam roman. Begitu melekat sempurna seperti tiada spasi. Ia lelah dan memang menyudahi. Ia lipat potongan itu, dan enggan untuk menyentuhnya.

“Mengapa tiba – tiba seperti itu?” tanya sahabat yang dipojok ruangan.

“Mungkin jenuh,” jawabnya pendek sembari terus memperhatikan.

“Jenuh, bukannya sudah tidak ada lagi kamus untuk tidak jenuh”, sentil sahabatnya lagi.

“Iya, seperti tidak ada kebebasan. Seperti semua begitu saja berlalu tanpa ada jejak. Seperti ombak yang terus – terusan merapat ke bibir pantai dan kembali lagi karena berbagai tarikan,” desisnya lagi.

“Kamu cukup untuk kembali berkontemplasi. Tidak perlu repot – repot berdalih,” sergah sahabat lagi.

“Selama aku masih punya alasan aku akan berdalih, bukankah manusia di ciptakan untuk terus berkelakar?” ungkapnya tak bergeming.

Mereka seketika saling diam. Merasakan apa yang sebenarnya tengah terjadi.

“Kebahagiaan bukan cuma masalah memiliki, kebahagiaan itu lebih karena kamu mampu berbagi. Hanya itu!” matanya memincing membaca pikiran sahabatnya.

“Berbagi, itulah sebab tak bebas. Tapi aku masih terus berpikir sebenarnya apa yang mampu dibagi?” derunya melirih.

“Apa saja, hidup bukan soal isolasi. Hidup bukan cuma soal proses dan hasil. Hidup itu ada pembukaan dan penafsiran,” ceramahnya kemudian.

Mereka sama – sama tidak bergerak, dalam kotak yang sama. Dalam muara yang berbeda.

“Kamu selalu menutupi, selalu membuat spasi. Roman kadang – kadang butuh tak berjarak dengan titik. Dan, titik tak selamanya berarti selesai,” sambungnya kemudian dia menatap lekat sahabatnya.

“Kita sama – sama bodoh untuk tahu. Walaupun aku cuma tahu bahwa ragamu itu tidak selalu sama. Kamu seperti dalang dengan banyak wayang. Itulah mengapa roman selalu berbeda – beda. Aku sedikit tersesat. Semoga kamu cuma mampu berteori,” sergah sahabatnya.

“Teori dalam roman itu membingkai bukan menjadikannya seperti robot mati. Kamu harusya tidak terlalu mengintimidasi soal itu,” belannya kemudian.

Mereka sama – sama saling tatap dalam kotak. Saling berdebat namun mempercayai. Ada saat – saat dimana memang hipster menjadi yang lebih dinamakan kebebasan dibanding mainstream yang selalu mencari zona aman. Mereka cuma berdebat, kemudian saling tertawa karena sama – sama tidak tahu akan apa dan siapa sebenarnya. – —-

___________________________

Hanya ketikan tak berhulu dan bermuara.

Baru kangen sama kata – kata. Semoga memberi makna.  Menculik kata dari waktu.

-2 Juli 2012. 11.58

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s