Sekolah Nusantara, 8 Juni

Hari ini hari jumat, 8 Juni 2012.

Seperti rutinitas yang sudah terultimatum sejak pertama, bahwa nanti sore jam setengah tiga aku dan teman – teman FFI Semarang akan kembali lagi ke desa Jabungan untuk melaksanakan ‘Sekolah Nusantara’.

Adek – adek yang datang hari ini tidak sebanyak yang pertama, mungkin hanya setengahnya sekitar 40an anak. Seperti biasa, kami selalu membagi kelompok sesuai dengan kelas mereka masing – masing. Kemudian lagi dan lagi anak – anak laki  laki menjadi yang paling sulit untuk di atur. Dan, itu akan jadi bagianku.

Hari ini bersyukur ada dua volunteer yang datang. Dan seperti biasa anak – anak selalu senang jika ketamuan kakak – kakak yang baru. Seperti melihat oase yang baru, dan anak – anak selalu mudah akrab dengan kakak – kakak baru.

Sore ini anggota FFI Semarang juga banyak yang datang, mulai dari NIken, Noven, Yesi, Petrik, Reza, Uli. Meskipun telat, Malio dan Nurin juga turut serta.

Sekolah nusantara berjalan seperti biasa, ada yang belajar bahasa inggris, matematika, ada yang hanya menggambar ada juga yang Cuma mendengarkan. Semuanya belajar, belajar dengan cara mereka masing – masing. Di tengah – tengah pengajaran, hujan turun. Ini kali pertama kami mengajar dan hujan turun, karena di desa walhasil memang atmosfernya berbeda. Lebih terasa dinginnya dan bau tanahnya lebih tercium.

Jam empat anak – anakpun pulang, ada yang minta di antar dan ada pulang yang dijemput. Lalu, seperti biasa kami sebagai tim yang selesai melaksanakan tugas, sesi evaluasi selalu ada. Kali ini novent begitu mendesak untuk melaksanakan evaluasi.

“Begini mbak, Novent mau bilang sesuatu,” ujarnya sore itu dengan raut muka yang tidak wajar.

“Iya, ngomong aja,” tanggapku sesantai mungkin karena evaluasi memang sering sekali dilaksanakan.

“Saya mau keluar dari FFI Semarang….” Lanjutnya sembari melihatku.

Bagaikan bumi yang tersambar petir, ada nyeri dan rasa yang tak terdefinisi ketika dia mengatakan itu.

“Mbak tau sendiri, ibukku perlu perawatan ekstra dan jujur saja makin kesini FFI bukan passionku lagi,” ungkapnya lugas.

Aku hanya menahan nafas dan mengatur jatungku dengan seritmis mungkin. Aku memang tahu siapa Novent, dia lebih prefer pada entrepreneur dan himpunan mahasiswa di jurusannya daripada di FFI. Aku menghela nafas dan memaklumi.

Dia pun melanjutkan alasan – alasannya, dan aku juga berpikir sejenak baiklah jika demikian. Tidak bisa terdefinisi rasa kehilangan yang muncul, seperti rasa yang sama ketika putus cinta. Sakit.

Kemudian Yesi menambahkan kalau dia juga ingin keluar. Sekali lagi aku shocked! Ada apa ini? Kenapa kalian meninggalkan aku?

Dia beralasan kalau dia ingin merawat ayahnya yang memang aku ketahui tengah sakit.

Aku hanya mampu menjawab sebisaku, sebelum mereka benar – benar pergi setidaknya aku berhak untuk membela dan meminta maaf atas organisasiku. Aku tahu, FFI Semarang memang tidak bisa menjanjikan banyak hal. Kita tidak memiliki kepastian dana seperti kalau di universitas. Yaa, kita tahu sendiri bagaimana biasanya suatu komunitas itu.

Aku pun tidak banyak memberikan reaksi, aku pantang untuk menangis. Buatku ditinggalkan oleh orang lain bukan  berarti aku lemah. Bukan berarti aku tidak bisa berdiri lagi. Aku hanya memikirkan apa yang akan aku lakukan dengan Sekolah Nusantara dan adik – adik disini. Aku akui bahwa Noven dan Yesi adalah salah satu anggota terbaik di FFI Semarang. Berat melepas mereka.

Saat rasaku bercampur dan ingin meledak. Saat Reza dan Pepet hanya membisu, dan aku tak kuasa melihat mereka berdua karena aku yakin aku bisa menangis saat itu.

Tiba … tiba….

Happy Birthday to you….

Happy Birthday to Mbak Fika…..

Happy Birthday… happy birthday to you……

Nyanyian suara anak – anak dan Niken menggema dari sisi belakang hingga membuatku terkejut. Brebes mili-lah air mataku. Haru.

Akhirnya saat rombongan yang menyebalkan tapi mengharukan itu menghampiri akupun meniup lilin di atas tart angry birth itu. :’)

Merayakannya bersama anak – anak. Sesuatu yang luar biasa.

Ahhhh sore yang indah. Kejutan paling manis dan membuat haru. Sumpah gue dikerjain kaya gitu.  Memang sih, waktu ulang tahun mereka tidak mengucapkan. Hanya beberapa, dan aku berpikir mungkin mereka tidak tahu. Tidak menyangka akan seperti ini.

Gerimispun turun (lagi), gerimis dari langit dan gerimis di hatiku.

Anak – anak menghabiskan tart setelah itu mereka di antar pulang. Dan, kami menghabiskan waktu setelah magrib untuk makan bersama. Small party. Thanks giving for all my friends. :’)

Dan, aku sadar lagi satu hal. Rasa paling menyakitkan di dunia ini memang rasa kehilangan. Terlebih kehilangan orang – orang yang kita sayangi. Love u all :*

_____________________________________

Di bingkai dalam kata, 10 Juli 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s