Segelas Dingin Coklat

Dalam setumpuk ragu yang menggebu, ada banyak makna tabu yang terus membiru. Menuntun perkataan – perkataan hati tak menentu. Ini saat ketika aku bertemu, dengan seseorang yang membuat seseorang yang lain sebatas tak ingin melagu dan ingin terus disitu.  

            Aku cukup tahu dengan semua masa lalu kalian. Kamu dan kamu. Sepaham aku tahu tentang masa laluku, karena agaknya dulu memang kita dalam satu tempo waktu. Yang membedakan adalah, kini aku sudah melagu dan salah satu diantara kalian belum.

            “Pesan apa mbak?” tanya seorang pelayan menghampiri kita.

            “Choco cream ya mas, dua.” Sahutmu penuh keyakinan bahwa aku juga menyukainya. Padahal yang kamu yakini satu, semua orang menyukai coklat. Aku hanya tersenyum mengiyakan. Aku memang suka coklat, walaupun tidak selamanya.

            Hari ini kita berjumpa, dalam waktu yang tidak direncanakan. Aku menyapamu ketika bertemu, dan aku mengajakmu berbicara hingga kita mampir ke tempat ini. Kedai coklat. hampir setahun setelah pertunangan itu, aku tak lagi bertemu dengamu. 

            “Selamat ya, anivesery yang pertama, senangnya udah setahun,” ujarku membuka pembicaraan beberapa detik setelah pelayan pergi.

            “Iya, makasih..hahaha, gimana? Mau aku cariin? Atau masih inget sama yang dulu?” sahutmu dengan penuh kebahagiaan dan memberondongku dengan berbagai pertanyaan dan pernyataan.

            Aku hanya tersenyum, “Nggak usah repot – repot mbak, masih sibuk berkarier. Ahh soal yang dulu, kita udah bahagia masing – masing..”

            “Ahahah aku dapatnya sekarang si, sayang kalau dilepasin chemistrynya udah dalem banget,” sahutmu kemudian. Aku langsung terdiam menyimak kata – katamu, aku tidak tahu yang kamu rasakan. Hanya saja aku merasakan getir yang tidak seharusnya aku yang merasakan. Tapi, dia yang dulu sampai sekarang (mungkin) masih mencintaimu.

Segelas dingin choco cream dengan satu cone es krim coklat tersaji.

Kamu menikmati sendokan pertama dengan memejamkan mata, menahan linu atau menikmati. Aku juga tidak paham.

            “Udah mantep banget ya mbak?” ujiku lagi.

            “Sekarang ini aku benar – benar baru merasakan perasaan yang mendalam . Dia bisa menempatkan aku pada prioritas penting dalam hidupnya, tempat diajak mencari pertimbangan saat mau mengambil keputusan, benar – benar  menyayangi, merawat, dan melindungi sepenuh hati, dan yang paling penting menceritakan semua yang terjadi dan gak ada yang ditutup tutupi. Dan jujur, aku belum bisa memperlakukannya sebaik dia memperlakukanku,” ceritamu. Aku mendengar saksama sembari mencoba terus mencari apa yang seharusnya terjadi. Aku menghela nafas.

Aku menyendok coklat di hadapanku.

            “So sweet sekali, emang kamu kaya gimana ke dia?” tanyaku mencoba polos senatural mungkin.

            “Aku masih belajar banyak dari dia, kalau aku sih malah yang cerewet marahin kalau dia jorok,” jawabmu tersenyum merekah sembari mengulum es krim. 

            “Eh, Nunug sudah pindah ke luar negeri,” alihku untuk memancing apa yang aku cari.

            “Iya, aku lihat di beberapa akun jejaring sosialnya,” sahutmu kemudian.

Kita saling menikmati coklat dingin di hadapan kita. Hingga aku bertanya soal perasaanmu pada dia yang aku ketahui mungkin belum mampu melupakanmu.

            “Gimana ya, aku menganggap dia sebatas orang di masa lalu. Mungkin cukup itu. Semoga dia mendapatkan yang lebih baik pokoknya.  Saat ini aku lebih milih nemenin Reksa yang sebenere punya kisah lebih pahit daripada Nunug,” jelasmu tapi kali ini kamu tidak mengulum apa – apa. Mungkin karena pertanyaan itu begitu serius dan membuatmu ingin mencerna baik – baik apa yang akan kamu keluarkan.

Aku menyendok cone es krim yang terus meleleh.

            “Kamu memang luar biasa Mbak. Tapi, ini kan bukan masalah sekedar menemani dan menakar seberapa pahit kisah hidup seseorang untuk memutuskan bersamanya atau tidak,” serbuku kali ini lebih seru. Aku tidak ingin memunafikkan hatiku pada apa – apa. 

Kamu menyruput coklat dingin yang tinggal setengah.

            “Iya sih, ini juga masalah perasaan. dan memang aku prefer ke Reksa untuk masalah ini..” sambungmu.

            Pembicaraan kita petang itu melumer seperti cone es krim dalam gelas dingin coklat. Mendetoksifikasi keadaan masing – masing. Setiap sendoknya mengandung cerita, dan mampu menceritakan cerita.

Aku tidak tahu pasti perbedaan salju abadi dan es krim di hadapan kita. Yang pasti keduannya berbeda, satu memiliki rasa dan satu semurni gletser. Kalian sudah berbeda. Kalian tak lagi sama. Aku tak tahu pasti sampai kapan es abadi itu akhirnya akan memutuskan mencair dan bergerak menuju sungai akhirnya bebas menemukan muara. Yang aku tahu hanya satu, es abadi itu kini tidak mempersoalkan lagi keabadiannya. Tapi, sedang berlakon agar puncaknya kian tinggi.

“Aku hanya mempersiapkan semuanya, untuk mendapatkan langit yang lebih indah,” ungkap es abadi beberapa hari sebelum keberangkatannya ke luar negeri. (Arfika)

 

(Akumulasi percakapan dalam satu ruang) 

Semarang, 12 Juli 2012- 00.17

9 thoughts on “Segelas Dingin Coklat

      1. karna ada dua ‘kamu’ di situ, dan yg satu belum melagu.😀

        ayolah ‘kamu’ yg belum melagu, baca postingan ini..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s