Cobalah Mengerti (1)

Bulan menggantung diantara sunyi, menyabit melengkung sempurna. Malam menjadi malam jika sempurna hadir, bulan, bintang dan malam yang hitam pekat. Sayangnya mungkin itu tidak akan terjadi disini, malam bukanlah hitam pekat, dia serupa senja yang memerah. Dari kejauhan ku pikir seperti kebakaran.

Selama matahari masih dalam orbit dan bumi masih berputar dalam poros, semua masih sama. Hari ini aku berkunjung pada seseorang, seperti biasa saat ini ku tebak ia tengah terbenam dalam transkip grafik dan berhadapan dengan benda elektronik yang terus bergerak krusornya. Tapi, sesampainya aku disana. Aku tertegun mendapati ia tengah berdiam menatap lembah yang berhambur ratusan lampu kota. Aku suka menyambanginya, karena tempat ini memang romantis.

Ia menghela nafas, seperti ada penat yang ia tahan. Kemudian ia meletakkan sesuatu di atas balkon. Undangan pernikahan.

“Exza menikah, kemarin Lelia, sebulan yang lalu Tetra…. Lantas?” ia seperti bertanya pada dirinya sendiri.

“Lantas kapan aku?” gumamnya kemudian. Kanin menghela nafas lagi. Sunyi. Tidak ada jawaban.

Aku tersenyum takzim, kesekian kalinya ia bertanya seperti itu. Sekian kalinya aku mendengar. Semenjak usianya belia hingga mendewasa. Aku terkekeh mendapati ia bertanya seperti itu.

Aku tak kan
Pernah berhenti
Akan terus memahami
Masih terus berfikir
Bila harus memaksa
Atau berdarah untukmu
Apapun itu asalkan
Mencoba menerima

“Kanin, kenapa lagi – lagi kamu menanyakan itu? bukankah semenjak awal semua sudah jelas? Masih terus meragukan?” ucapku kali ini. Belum berhenti mengungkapan arti.

“Kanin, ketika semua dunia ini ada. Sudah ada yang menentukan setiap jengkal. Lihatlah malam, ia pasti akan purnama dan menyabit kembali, ombak pasti akan pasang dan tenang kembali, dan matahari kembali ke timur,” jelasku padanya ketika beberapa tahun  belia saat ia baru menyelesaikan suatu drama basa basi.

“Aku belajar untuk mencintainya, tanpa belajar akan pernah pergi darinya. Tapi, kenapa semua berhenti disini saja? Cintaku tak cukupkah untuknya?” gumamnya ketika belia sembari menengadah menghadap ke langit. Kala itu hatimu terlalu sesak, sakit yang seharusnya kamu tidak rasakan. Sakit yang aku pahami selanjutnya, bahwa itu membangun perngertianmu kemudian.

“KAMU HARUS YAKIN SEMUA ITU PUNYA MUARA!” seruku kemudian.

“Aku tulang rusuk? Bagaimana aku menemukan? Apakah aku akan berlari – lari mencari tempatku harus menancap?” bayangmu dua tahun kemudian, dengan nada yang terus bertanya. Ketika kamu mengumpulkan pengertian dan pemahaman.

“Begitulah kehidupan, ada yang kita tahu, adapula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidaktahuan itu bukan berarti Dia Yang Maha Tahu berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Dia Yang Maha Segalanya  melindungi kita dari tahu itu sendiri,” ujarku sembari mengutip perkataan dari novelis favoritku.


Dan kamu hanya
Perlu terima
Dan tak harus memahami
Dan tak harus berfikir
Hanya perlu mengerti
Aku bernafas untukmu
Jadi tetaplah di sini
Dan mulai menerimaku

“Kanin, kamu hanya perlu menerima. Kamu tak harus memahami kapan bertemu dan kapan akan saling menyepakati. Kamu tidak harus berpikir bagaimana kalian berjumpa dan mengucapkan makna pertama kalinya. Kamu hanya perlu mengerti, bahwa semua tidak aka nada yang luput, tidak juga kamu,” kataku kali ini.

Kamu menghela nafas.

“Kanin, tempatmu itu ada. dia ada. dia akan datang disaat yang tepat. Jadi, tetaplah seperti saat ini. Dan, mulailah menerima bahwa semua ini adalah proses untukmu bahagia,” lanjutku kemudian.

Cobalah mengerti
Semua ini mencari arti
Selamanya takkan berhenti
Inginkan rasakan
Rindu ini menjadi satu
Biar waktu memisahkan

            Mukanya tidaklah merona, ia masih tergugu. Sedikit terluka, aku merasakan. Meski aku tahu, bagian yang lain selalu membuatnya kuat dan tidak menerima rasa. Bagaimana kemudian aku mengartian pengertian dan pemahaman itu justru muncul dari logika bukan rasa?

“Kanin, cobalah mengerti semua system ini memiliki arti. Agar sampai nanti memiliki keindahan yang haqiqi. Bukan lagi tercabik dan ternodai. Rindumu akan jadi satu dan bertemu dengan jawabannya nanti. Rasakanlah ketika semua bukan sekedar janji. Sampai waktunya nanti, kamu akan benar – benar bahagia. Jadi, cobalah mengerti,” pesanku lagi sebelum aku pamit pergi.

“Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.

Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.” UngkapMU setibanya aku kembali menunaikan tugasku untuk Kanin. Kata – kataMU yang pernah engkau titipkan pada seorang penulis Novel  favoritku. Aku pun tersenyum.

“Semoga semua mencoba untuk mengerti,” gumamku.

 

Ide sederhana, cobalah mengerti😀

Lirik : Cobalah Mengerti Paterpan 

Selesai 11.36

Semarang, 13 Juli 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s