Menanti Kau Menghangat

Hampir satu tahun aku bekerja di kedai ini, kedai atas bukit. Aku tidak menjadi peramu kopi, ataupun  sekedar memasak kentang goreng. Di kafe ini aku berperan sebagai AE (Account Executive) marketer yang sering berhubungan dengan berbagai stakeholder ataupun masalah keluar yang lain. Lupakan apa pekerjaanku itu, mungkin tidak begitu penting dalam cerita ini.

Kafe ini lebih indah dinimati menjelang senja dan malam hari. Menikmati temaram senja, arak – arakan uraian awan dan hembusan angin lembah. Diselingi tepat pukul 5 gereja di sebelah café ini berdentum, dan tak lama kemudian saat adzan magrib berkumandang lampu – lampu rumah penduduk di daerah bawah mulai menyala hingga malam membungkus kota. Romantis.

Kedai bergaya classic dengan seduan yang berselera membuat kedai ini tidak pernah sepi.Dalam perulangan dan detik waktu yang sama, aku hafal pelanggan kedai. Mereka yang hampir setiap hari datang, dia yang dua minggu sekali, kamu yang tiga hari sekali.

Tiga orang pelanggan yang setahun terakhir menarik perhatianku, Zea, Zacky, dan kamu. Ziras.

Malam ini Zacky datang sendiri. Air mukannya sendu.

16 bulan yang lalu………..

  Pukul delapan tepat dua sahabat itu datang ke kedai, Zacky dan kamu. Kalian dengan atribut bebeda akan memesan satu minuman yang sama, Vanilla Late. Atribut yang di pakai Zacky adalah sebuah buku agenda berwarna maroon dengan bolpoint di sisi agenda, belakangan aku mengenalnya sebagai penulis. Sedangkan kamu akan membawa netbook warna hitam yang selanjutnya aku kenal sebagai dokter digital. Meskipun satu rasa vanilla late, namun kalian berbeda taste. Dia akan memilih Vanilla Late dengan cone es krim di atasnya, sedangkan kamu akan memesan vanilla late hangat. Kalian teman baik.

            Setengah jam kemudian Zea datang dan bergabung. Mahasiswi sastra Jepang tersebut terlihat cantik dengan rambut panjang hitamnya dan akan berkilau diterpa lampu kedai. Posisi favorit kalian adalah bagian luar dari kedai ini, persis menghadap ke lembah bintang (karena kerlip lampu rumah penduduk di bawahnya, kata pemiliknya bukit ini memang romantis). Biasanya Zea akan memesan Green tea dingin. Kemudian kalian akan berlama – lama saling bercerita satu sama lain.

Ketika itu aku masih menjadi pelanggan biasa kedai ini.

   “Menjadi penulis di Indonesia itu bangkrut karena pembajakan,” celetuk Zea dengan nada mengejek.

            “Ah… tidak, di Indonesia masih banyak pecinta buku yang mengagumi originalitas,” sanggah Zacky tak mau kalah.

            Berlajutlah perbincangan kalian. Zacky dan Zea akan lebih banyak saling bertukar pendapat dan lempar lelucon sedangkan kamu hanya sesekali menyela namun cenderung untuk diam, mendengarkan sembari terus menyimak ucapan Zea. Ada rasa yang berbeda.

Kedai malam ini……

Bulan terpantul di bias kaca kedai, segala pesona lembah menjadi hampa bagi Zacky. Air mukanya yang biasanya bersahabat dengan bartender pun hanya tersenyum samar. Ada nanar luka dari sorot matanya.

            “Pesan apa mas Zacky?” tanya Xion bartender kami malam ini.

            “……….” Dia terdiam lama. Seperti ada sesuatu yang dia pikirkan untuk sebuah pilihan minuman.

            “Vanilla late dingin dengan dua tumpukan es krim?” tebak bartender.

            “……..” Dia masih belum menjawab. Itu berarti dia masih berfikir.

Kedai 8 bulan yang lalu……..

    Lembayung jingga menembus celah pohon cemara di pekarangan kedai. Angin lembah semilir melambat memainkan cemara yang berderai – derai. Satu dua gerombolan burung gereja berjingkat – jingkat di pagar kedai. Indah.

            “Mas Ziras pagi sekali sudah ke kedai?” tanya pelayan santun sembari meletakkan vanilla late panas.

            “………..” kamu hanya tersenyum sembari melepaskan kaca mata. Dari sorot matamu hanya terlihat hampa seperti ada luka.

            Selepas kedatanganmu malam itu, aku tak pernah melihatmu lagi.

Kedai malam ini…………….

“Hay boy akhirnya kamu datang,” sapa Zacky padamu. Kali ini sapaannya padamu terdengar rapuh. Kamu segera memesan vanilla late dan duduk disebelahnya.

            “Tiga bulan di luar negeri membuatmu semakin bersih boy? Dapat bule mana?” selorohnya tanpa memperhatikanmu. Ya, kamu baru saja pulang dari luar negeri. Ku dengar kau di undang dalam beberapa konferensi di luar negeri.

            “Bule apa? Di luar negeri itu tidak enak,” ungkapmu kemudian dengan mengaduk vanilla late dan menghirum aromanya.

“Bagaimana bukumu boy selama aku tinggal? Sudah selesai?” tanyamu lagi.

            “Dunia ini di konspirasi oleh persepsi boy,” jawab Zacky memandangi cone es krimnya yang mulai meleleh.

Kedai 7  bulan yang lalu…….

Meja nomor 1

            “Sekarang Neng Zea suka vanilla late dingin?” tanya pelayan sembari menggoreskan pesanan kedua orang dihadapannya.

            “Iya… biar sehati,” lontar Zacky sembari melirik gadis di hadapannya. Sebulan yang lalu mereka resmi berpacaran.

Meja nomor 11

Kamu masih terpagut dengan netbook di hadapanmu. Matamu masih tidak tenang, tanganmu menggerakkan krusor lebih cepat. Meja kalian sebenarnya saling berhadapan. Hanya terhalang kaca riben dimana kamu bisa melihat mereka namun mereka tidak terlalu jelas melihat keberadaanmu. Ya, kamu berpindah tempat, namun tetap di ruang yang sama. Zea.

            “Mas Ziras pesan lagi?” tanya pelayan yang baru saja kamu panggil.

            “ Vanilla late panas satu lagi,” ucapmu singkat tanpa melihat pelayan. Kamu sudah menghabiskan tiga cangkir vanilla late malam ini.

            Sejak malam itu yang ku tahu kamu tetap datang di meja yang sama. Akan datang sebelum setengah delapan malam kemudian terus menunggu mereka berdua pulang. Itu kegiatanmu. Sejak itu aku tahu, luka dan harapanmu tersembul di antara adukan vanilla late bartender.

Kedai Malam ini………..

 “Aku putus boy sebulan yang lalu,” desisnya kemudian.

            “…………….” Selanjutnya kamu tertegun dan tidak dapat berkata. Antara senang atau sedih. Mereka putus akhirnya, wanita yang kamu cintai sekarang bebas. Tapi, sahabatmu nestapa memendam derita. Hatimu berkecambuk. Dilema.

Akun jejaring-mu berkedip….

 Zea Anastasya

            ‘Kak, udah pulang ke Indonesia ya?,’

Ziras Fahrezi

            “Iya… apa kabar?”

Zea Anastasya

            “Baik. Besok ketemu yuk, di kedai biasa jam 8 ya.”

  Kamu makin tertegun. Dihadapanmu Zacky hanya diam dan menggoreskan penanya di atas agenda merah maroonya. Kamu hanya terdiam sambil memengkuri netbook karena di hadapanmu yang lain ada yang tengah membuat hatimu kembali berdesir.

            “Saat ini hanya ada satu vanilla late yang panas. Aku ingin ada satu lagi vanilla late panas disini, disampingku. Semoga kamu suatu hari nanti menghangat, disaat yang tepat ketika semuanya telah siap,” gumammu dalam hati.

Terpungkasi tanpa mengerti, terangkai tanpa tahu arti

My home, 18 juli 2012. 11 : 02

           

2 thoughts on “Menanti Kau Menghangat

  1. Reblogged this on Reza Faiz A and commented:
    “Saat ini hanya ada satu vanilla late yang panas. Aku ingin ada satu lagi vanilla late panas disini, disampingku. Semoga kamu suatu hari nanti menghangat, disaat yang tepat ketika semuanya telah siap,” gumammu dalam hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s