Lengang

Langkahnya sembarangan, mukanya kebas. Tanpa babibu ia segera menuju lorong dan memasuki kabin pesawat. Seorang pramugari tersenyum mencoba menenangkan, seolah berkata  ‘anda belum terlambat’. Ia pun membalas dengan senyum tipis. Sebelum perintah mematikan ponsel berdenging terlebih dahulu, ia melihat ulang layar ponselnya. Kosong. Ia menghela nafas lega, berarti ia bisa meninggalkan kota ini dengan lebih tenang untuk sementara.

“Okey semua sudah lengkap,” gumamnya kemudian.

Gerimis halus membasuh kota, ketika satu dua bunga desember mekar di pinggiran jalan. Nyala orangenya selalu berpadu cantik dengan hijau daunnya yang menjuntai ke tanah.

“Senangnya kembali kesini,” ujarnya sembari memejamkan mata dan menggendong ransel.

“Cuma senang kembali ? tak senang berjumpa denganku?”, gerutumu disebelahnya. Ia terkekeh. Seperti suatu makna,-tentu juga karena berjumpa denganmu.

Kalian berjalan menyusuri kota ini, menyempatkan mampir ke beberapa pasar seni disini, menikmati kuliner khas. Jarak kota tempat belajar kalian saling berjauhan. Namun, persahabatan dan jurusan yang sama membuat kalian begitu dekat, seperti saudara. Saat itu kalian sama – sama mengawali usia 20an, konon katanya masih menyangkut kematangan. Kalian sama – sama tidak saling paham, seperti apa dikatakan matang. Apakah harus memakai api? Api macam apa pula?

“Masih belum lupa? Atau masih saja susah untuk lupa?”, tanyamu padanya dengan memamah roti konde. Kalian sama – sama suka blueberry.

Lagi – lagi ia terkekeh, “untuk apa membicarakan soal itu? aku disini hendak berlibur, bukan untuk bercerita. Sudah cukup bukan cerita kita selama ini.”

Matanya sibuk menyibak awan, penerbangan ini penting untuknya. Meskipun ia sejak dulu tahu bahwa perjalanan ini pasti terjadi, karena sudah terikat janji.

“Kita masih menunggu, tapi kapan semua itu akan datang?” katamu dengan nada mengeluh padanya. Empat tahun terakhir membuat jenuh dalam sepi, jengah dalam sendiri banyak mengeluh dan ber-aduh. Kalian sedang duduk di salah satu sudut taman budaya di sekitar kota. Saat itu masih gerimis.

“Ternyata kamu lebih galau dibanding aku,” mukanya merona mendapati kelu diwajahmu. –Ia senang melihat kamu nestapa menunggu kisah nyata. Melihatnya kamu bersungut – sungut,- ‘teman macam apa kamu?’.

“Mas Martabak PHP deh,” ceritamu pada seseorang yang sedang dekat denganmu.

“Pengharapan palsu? Kenapa gitu?” tanyanya penasaran.

“Kemarin nggak sengaja lihat status mantannya, jadi bisa menyimpulkan sesuatu,” jabarmu kemudian. Kamu kemudian bercerita menghabiskan sore ini di tepian sungai terpanjang di pulau Jawa itu.

Beberapa hari di kotamu, ia memutuskan untuk segera pulang. Momen bersamanya selalu menyenangkan bagimu, saling diskusi dan bisa berkata sepuas hati. Bahkan ia tidak segan bercucur air mata di depanmu. Bukankah elok persahabatan seperti itu?

Namun, semua memang ada batasdan harus ada spasi. Entah mengapa saat itu ia begitu enggan berbagi denganmu. Kamu jelas tahu dia menyembunyikan luka, tapi entah tentang apa. Ia menolak berbagi bersamamu.

‘jangan hubungi aku sampai aku menghubungi kamu terlebih dahulu’– begitu pesan singkat yang terkirim. Kamu menghela nafas maklum.  Di saat bersamaan laki – laki yang tengah dekat denganmu juga sedang melalui ujian di hutan belantara. Sempurna sudah kini, harimu sepi tak berkawan. Ia tak juga datang memberi kabar. Hendak mengadu pada siapa? Toh dia yang selama ini dekat denganmu. Tidak mudah bukan percaya pada orang lain.  Tidak mudah menyamakan persepsi dan bertukar opini.

Pesawat sebentar lagi bertatap dengan bumi, lamunanya membuyar.

Kamu duduk di muka teras, air mukamu belakangan ini sangat ceria. Tanpa pemerah pipi, tapi pipimu bersemua merah kala digoda oleh sanak keluarga bila sebentar lagi harapanmu akan segera jadi kenyataan. Pernikahan.

“Kenapa orang – orang sibuk memikirkan siapa jodoh mereka? Bahkan sibuk mencari – cari, sampai berganti – ganti,” celetuk temanmu di emperan kampus. Kamu bingung menanggapi, tidak seperti biasanya dia tiba – tiba berkata seperti itu.

“Mungkin memang prosesnya berbeda – beda,” sanggahmu ringan.

“Bagaimana menurutmu?” tanyanya lebih lanjut.

“Apa?” tanyamu lagi bingung.

“Jodoh,” timpalnya cepat.

“Aku tidak tahu,” air mukamu mendadak pasi. Memendam kelu. Dan, siapa sangka itulah jawabannya untuk hari ini.

Ia sudah keluar dari bandara. Satu jam menumpang pesawat kini ia melaju ke stasiun kota. Naik kereta untuk datang di hari bahagimu, ia takut terlambat. Sejak dulu kalian lebih menyukai kereta

“Pramex jurusan Kutoharjo 1 mbak,” pesannya pada seorang petugas loket siang itu. memandangi tiket di tangan ia tersenyum, setelah itu ia menyusuri lorong dan menunggu kereta. Persis seperti itu, dulu.

“Dia datang?” tanya seorang yang sudah tahu persahabatan kalian semenjak lama, bahkan ia yang mengenalkan kalian.

“Tidak tahu, katanya masih ada pekerjaan. Tahu sendirilah dia seperti apa,” jawabmu datar, kamu akan sedih bila ia tak datang. Bagaimanapun ini hari penting bagimu, dan dia harus ikut merasakan.

Masih tetap sama, cukup satu jam untuk mencapai kota itu. Ia segera menumpang kendaraan untuk segera sampai ke rumahmu. Malam ini, malam midodareni. Janur  – janur melengkung di depan rumahmu. Tenda di dirikan mengerucut berkubah – kubah. Senyummu bebas terlempar pada siapa saja. Bahagia.

Gentong berisi air sudah di siapkan, wewangian bunga berhambur di udara. Roncean melati sempurna melilit bahumu. Prosesi siraman akan segera di mulai. Sanak famili, dari Pakdhe sampai Eyang berdiri memagar mengawal kebahagiaanmu. Siraman pertama dimulai dari orang tuamu, kau menangis, selanjutnya Pakdhe dan Budhe yang menganggapmu anak sendiri, dilanjut family yang lain. Setelah selesai prosesi itu, kau di bopong ayahmu masuk ke kamar, kamu semakin tergugu.

“Hay, aku datang,” senyumnya mengembang sempurna mendapati dirimu sedang mematut matut diri di cermin.  Kau menoleh tak percaya.

“Sahabat memang nggak pernah bohong,” pelukmu kemudian. Setelah selesai wisuda setahun silam, akhirnya dia pergi jauh. Ke kota orang, belajar lagi. Sedangkan kamu sibuk mempersiapkan hari ini.

“Bagaimana besok? Siap untuk di ijab dan di Kabul?” ia tertawa dan kamu masih menangis dibahunya. Sejatinya kamu menangis bukan karena dia datang, tapi karena memang dia yang mengetahui ceritamu sejauh ini.

“Ye la, ye la, jodoh emang kalau udah klik kaya gitu, nggak ngira deh ya,” seloroh Kintan padamu. Kau tertawa.

Sebulaan saat Kintan memintamu tidak menghubunginya, saat temanmu berbicara jodoh di emperan kampus, ternyata laki – laki itu adalah penghubung cerita yang tidak pernah dinyana sebelumnya. Ia sedang mencarikan pasangan Rekanita untuk sepupunya yang enggan mencari pasangan sendiri. Ributlah seluruh keluarga mencari gadis yang klik dengannya. Tak disangka saat ia dikenalkan padamu hatinya mantap tanpa ragu. Berselang kemudian datanglah ia pada orang tuamu. Dan, kamu memenuhi blangko calon istri seorang perwira.

“Aku sedih,” sahutnya kemudian.

“Kenapa?” tanyamu polos seperti biasa, bersiap mendengarkan cerita.

“Ternyata kamu duluan yang menikah, yang menamani galau siapa? Yang muter dgyta kesepian siapa?” tawanya kemudian.

Kamu memeluknya. Sekali lagi kamu menangis. Tangisan bahagia.

“Kita akan tetap temenan, sampai punya anak dan tua,” dekapmu kemudian. Ia mengangguk.

Sebenarnya ia memang menyimpan duka. Karena tidak ada satupun cerita yang benar – benar selesai, masih ada yang menunggu.

Selesai, 26 Juli 2012 – 10.23. untuk sahabat😀

2 thoughts on “Lengang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s