TVRI BUFFERING KONVERGENSI MEDIA DEMAGOGI

Sejak munculnya berbagai TV swasta di awal dekade 90-an mengakibatkan surutnya popularitas TVRI (Televisi Republik Indonesia). Berubahnya berbagai legitimasi dan peraturan berkaitan dengan media memunculnya banyak stasiun – stasiun televisi baru di Indonesia. Beberapa dari mereka kemudian menjelma seperti siluman, seperti serigala berbulu domba, udang dibalik batu.

   Stasiun – stasiun televisi baru tersebut berlomba – lomba menarik perhatian masyarakat dengan berbagai program yang dikemas lebih menarik. Namun, karena memang tujuannya bukan hanya sebagai media informasi, edukasi, hiburan semata tapi menyelipkan unsur promosi pemiliknya membuat berbagai informasinya tidak lagi berimbang.     Ironisnya, stasiun – stasiun televisi baru justru lebih diminati oleh masyarakat dan tidak sedikitpun yang melirik TVRI.

Fenomena konvergensi media dengan berbagai kepentingan semestinya bisa saja menjadi lebih kondusif dengan peran TVRI yang bisa lebih gencar. Jika saja TVRI bisa lebih prima, maka bisa menjadi buffering dari perang media. Namun, sayangnya kini masyrakat enggan mengganti chanel pad TVRI. Bahkan bisa jadi TVRI tidak ada dalam pilihan chanel mereka. Sehingga semakin banyak bias dan ambigu makna yang timbul di masyarakat.

Sebagian besar masyarakat mungkin beranggapan karena TVRI sudah ketinggalan zaman dan ‘kampungan’. Namun, pada faktanya jika ditelisik lebih lanjut sebenarnya TVRI lebih cocok untuk masa sebagai Negara berkembang seperti Indonesia saat ini.

 Realita Demagog dalam Kotak Kaca

Dalam kenyataanya para pemilik modal yang kemudian menjadi demagog sering sekali muncul di stasiun televisi mereka sendiri. Dengan alibi berbagai kegiatan mereka tentunya, mulai dari yang melakukan bakti pendidikan, sampai pembukaan partai baru. Informasi mereka sebarkan setiap harinya sembari membangun pencitraan.

“Jacques Ellul mengatakan “Informasi adalah sarana propaganda”. Dengan memanfaatkan informasi itu pencitraan dibangun. Pencitraan biasanya dibuat sesuai dengan aturan demagog klasik, yaitu menyesuaikan diri dengan apa yang diharapkan atau di dengar audience.”(Haryatmoko.Etika Profesi Komunikasi, Kanisius, 2007 hlm 70)

Para demagog (orang yang meminjamkan suaranya kepada rakyat) membangun pencitraan dengan sempurna lewat media mereka. Prototype perayu massa seperti mereka akan semakin menjadi tak kala mereka semakin mencari apa yang menjadi ekspektasi mereka.

Saat ini agenda setting politik kepentingan tetap menjadi babak dramaturgis berbagai televisi swasta. Satu dua pemilik modal menggunakan sela – sela program sebagai acara memamerkan muka belas asih dan patriotisme. Multitasking mereka semakin efisien karena pemberitaan yang timbulnya tentunya positif dan membangun citra mereka lebih baik.

Buffering TVRI

Dengan program yang didesain untuk Indonesia, mengangkat budaya daerah TVRI merupakan stasiun televisi yang bisa dikatakan ‘normal’. Berbagai program dengan background daerah ditayangkan. Namun, sayangnya peminat dari TVRI sendiri saat ini sangat sedikit. Bisa dikarenakan format acaranya, bisa juga karena kualitas gambar dari TVRI yang kalah dibandingkan dengan stasiun televisi swasta yang lebih terang benderang.

Stasiun televisi swasta kebanyakan adalah dibawah kuasa pemilik modal, dan berorientasi pada laba. Dengan kondisi dengan get keeper pada berbagai informasi akan ditentukan oleh pemilik modal, dengan unsur berbagai kepentingan. TVRI sebenarnya hadir dengan prinsip pelayanan public. Namun, lagi dan lagi karena memang tidak banyak dilirik membuat TVRI kalah pamor.

TVRI sebenarnya bisa menjadi rujukan bagi audience, sehingga bisa terjadi crosscheck. Audience bisa mencari rujukan ke TVRI sebagai pengkayaan opini. Sebagai media massa yang dilihat dan didengar banyak pihak, selayaknya prinsip netralitas tetap dipegang. Prinsip netralitas dalam Haryatmoko disebutkan bahwa, ini dimaksudkan untuk mengkondisikan aktivitas dan bukan berfungsinya pelayanan public media. Netral yang tidak memihak.

Media diharapkan menyediakan saluran komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, yang membantu menjelaskan tujuan, merumuskan kebijakan, dan mengkoordinasikan aktivitas (Curran, 2000 : 127 dlm Haryatmoko hlm 77). TVRI memiliki peran tersebut. Dengan pemojokan dan penambahan berbagai isu dari berbagai stasiun televisi swasta selayaknya TVRI mampu hadir sebagai katalisator yang baik. Mengimbangi arah permainan dari berbagai televisi swasta memang bukan lawan TVRI. Namun, dengan tetap berimbang, netralitas serta up to date TVRI diharapkan mampu menyediakan referensi informasi.

Sebagai audience yang makin banyak diterpa oleh berbagai media, memilih secara selektif media dan mencari sumber rujuka lain adalah jalan satu – satunya mencapai kejelasan dan keberimbangan. Bukan dengan membela satu kubu dan mencerca kubu yang lain. Bukan dengan memojokkan satu opini dan memenangkan pemikiran yang lain. Tapi, dengan memegang fakta sebagai suatu realita yang tetap harus dicari meskipun tercemari.

DAFTAR PUSTAKA

Bertens. ETIKA, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 2011.

Rahardjo, Mario, Rini dkk. Literasi Media dan Kearifan Lokal. Buku Utera. 2012.

Cuplikan Etprof, semester empat :) 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s