Leaving On Jet Plane

Semenjak awal aku sudah menduga ini akan menjadi perjalanan yang janggal. Dimana seorang gadis berusia 24 tahun pergi sendiri  ke luar negaranya hanya untuk berlibur. Semakin janggal karena untuk hal – hal santai dan melambatkan waktu bukanlah perangrai kesehariannya. Ia tidak percaya akan meninggalkan semua tanggung jawab untuk bertemu klien atau bertemu dengan stake holder memikirkan citra perusahaan.

“Okey, mungkin ini akan jauh lebih baik bila aku menikmatinya,” sanggahnya sendiri dalam hati sembari memandang kosong tiket liburan. Kemudian tangannya dengan malas memasukkan beberapa barang yang semestinya ia bawa.

Perjalanan yang semestinya tidak ia lakukan ditengah banyak pekerjaan yang harus segera ia rampungkan.

###

Kesibukan bandara penuh selera ia perhatikan, kebiasaan yang tidak mungkin ia tinggalkan-observasi kehidupan. Setelah semua proses bernama aturan pemeriksaan selesai, segera ia menuju ruang tunggu. “Semoga nggak delay,” ungkapnya sembari menyingkap lengan jaket tosca yang ia kenakan.

Jadwal keberangkatan pesawat yang akan membawanya ke Negara di benua lain itu masih satu jam lagi, tapi baginya berdiam di tempat asing beberapa saat membutuhkan adaptasi. Jadilah ia memutuskan untuk datang lebih cepat.

“Selamat pagi bu,” sapa salah seorang petugas bandara. Dengan senyum yang nampak di buat sebaik mungkin ia hanya mengangguk.

Matanya nan lentik alami mengedarkan pandang, mencari tempat yang tepat.- Semua orang yang sibuk dengan diri mereka sendiri, pasti tidak akan memperdulikan kecemasan dalam hatinya.

Duduk di kursi tunggu paling dekat dengan pintu keberangkatan serta dengan pemandangan lepas landas pesawat menjadi tempat pilihannya. Setelah memastikan semua tertata, ia mengeluarkan buku yang sudah disiapkan untuk mengisi waktu tunggunya. –Membaca adalah hiburan dan kesukaannya. Sebelum perjalanan ini, ia menyempatkan mengisi amunisi dengan berbelanja beberapa novel di toko buku. – Ia tahu perjalanan ini akan sendiri, mana mungkin dihabiskan sekedar melihat awan. Akan jadi bagian yang tidak mengenakkan jika memori dalam otaknya menyembulkan kejadian yang sudah seharusnya tidak untuk diingat (lagi).

Setengah jam terakhir ia hanya diam dan menikmati patah demi patah kalimat dalam novel. Novel percintaan sebenarnya bukan juga pelarian yang baik untuk jiwanya yang tengah merasa sendiri. Tapi, hati dan matanya juga telah bosan dengan buku motivasi atau soal mempererat relasi sebab toh setiap hari ia tiada pernah berhenti memotivasi diri dan mempertahankan relasi. –Relasi kerja tepatnya.

Beberapa saat kemudian pandangannya terganggu oleh sosok laki – laki yang tiba – tiba duduk dihadapannya. Menjadi sangat tidak berkesan terlebih ia terlihat begitu flamboyant dan sangat berisik. Segera ia menempelkan headset di telingannya, berharap mengusir suara laki – laki yang tidak ingin didengarnya.

###

Panggilan keberangkatannya menggema memenuhi ruang. Segera ia bersiap dan memastikan pembatas buku tepat berhenti di halaman yang terakhir ia baca.

Memasuki lambung pesawat. Sekali lagi ia akan merasa asing disini ia akan sendiri. Kemudian ia bergerak lebih dalam. Wedges warna tosca mematuk – matuk lantai pesawat mematuhi titah pemiliknya, mencari dimana seharusnya ia duduk.

Baru saja sampai memastikan tempat duduknya, ia dikagetkan oleh pria flamboyant yang tiba – tiba duduk disampingnya. Ia hanya bisa mendengus menyesal.

“Baiklah, marilah membuat semua ini akan baik – baik saja,” gumamnya memberikan afirmasi positif pada diri sendiri.

“Mau kemana kak? Sendiri aja?” tanya pria flamboyant itu membuka pembicaraan.

“Berlibur. Iya sendiri,” jawabnya sekenanya, kemudian ia enggan meladeni pembicaraan laki – laki itu karena pikirannya sudah bergabung bersama ribuan awan di luar sana.

Lamunanya terpecahkan ketika seorang pramugari mengingatkan untuk memakai sabuk pengaman. Kemudian ia tidak lagi mendapati laki – laki flamboyant tadi, dari arah lain terdengar ribut. – Sepertinya ia salah menempati tempat duduk. Ia pun hanya bergeleng dan merogoh handphone di saku jaketnya. – Memastikan tidak ada yang menghubungi dan me-non aktifkan.

Ia tahu tidak akan ada yang menghubunginya, Ayah dan Ibu telah ia beri tahu sejak beberapa hari yang lalu. Pesan singkat hati – hati di jalan juga sudah ia terima dari ayah beberapa jam yang lalu. – Memastikan putri semata wayangnya baik – baik saja. Mungkin hanya akan mereka berdua, sisanya beberapa pesan dari teman kerja yang memberikan laporan. Untuk seseorang asing yang mungkin memiliki hubungan special dan mengkhawatirkannya, sepertinya tidak akan ada. Ia hanya menghela nafas dan menekan tombol power off. Sebentar lagi pesawat akan lepas landas.

Pergelangan lengannya goyah tak kala seseorang sibuk memakai sabuk pengaman dan meletakkan tangannya. Laki – laki berkacamata itu seperti menghayati sesuatu dengan memejamkan matanya.

“Syukurlah kalau laki – laki ini menjadi teman seperjalanan selama 12 jam, nampaknya tidak ada buruk,” ungkapnya lagi terlebih paras laki – laki di sebelahnya tidak bisa dikatakan biasa saja. – Istimewa. Kemudian lagi – lagi ia bergumam dengan ungkapan favoritnya, “aku gadis cerdas yang selalu beruntung.” – Tersenyum.

Setengah jam pertama ia habiskan untuk memandangi awan. Badannya sedikit terguncang saat pesawat mulai lepas landas. Ia menenangkan saraf dengan berkhayal  memiliki sayap. Jika saja mampu ia ingin bertanya pada malaikat dan menyampaikan pada Tuhan dimanakah laki – laki yang seharusnya datang untuknya.

Beberapa hari yang lalu satu lagi undangan pernikahan dari teman tergeletak sempurna di atas meja kerjanya. Artinya, satu lagi ultimatum yang ia terima. Ketika Ibu mulai sibuk bertanya, dimanakah calon suami, kapan menikah. Ketika olokan demi olokan ia terima, “sukses menjadi marketing komunikasi perusahaan ternyata tidak menjamin seseorang bisa memarketingkan dirinya sendiri ya?” selanjutnya ia pasti hanya mampu- tersenyum.

“Sendiri aja perginya?” tanya laki – laki di sebelahnya. Suaranya unik, mirip anak kecil tapi ringan dan menyenangkan.

“Iya, kamu?” tanyanya kemudian.

“Sama, kadang kita butuh pergi sendiri. Memproyeksikan diri sendiri,” jawab laki – laki itu tanpa melihat gadis disampingnya.

“Memproyeksikan diri dengan kesepian,” sahutnya kemudian. – Laki – laki itupun hanya menyungging sebelah alisnya.

“Hendak berlibur atau masih soal pekerjaan?” sanggah laki – laki itu lagi.

“Mencoba berlibur,” jawabnya singkat.

“Jika  pasangan adalah satu – satunya alasan kenapa Tuhan menciptakan kehidupan, maka sewajarnya setiap manusia tahu pasti mereka tidak perlu khawatir akan berjalan sendirian,” kata laki – laki itu yang kali ini meliriknya.

“Semua itu Cuma butuh waktu,” kali ini ia terlihat bergeming. Sepertinya urat kerisauannya terbaca.

“Waktu tidak akan menyelesaikan jika tidak ada tindakan,” papar laki – laki itu (lagi).

Selanjutnya mereka terlibat dalam cerita panjang, mengisi dua jam pertama dengan berbicara mengikuti kata, tanpa saling menyebutkan nama. Sampai akhirnya mereka saling bercerita dan menasehati satu sama lain.- Menikmati. Ada rasa nyaman yang kemudian melingkupi tubuhnya. Seketika ia sadar bahwa ia memerlukan bahu lain untuknya bersandar ketika lelah, untuknya bercerita ketika gundah. Nyaman.

Laki – laki yang tak pernah ia kenal. Dari ceritannya laki – laki itu bilang bujang yang single parent. Entahlah, siapa lelaki itu.  Tapi, mungkin dia sudah jatuh hati pada lelaki itu. itulah lemahnya hati wanita terlalu mudah terpana dan terpanah. Terlalu rapuh terlebih jika terlalu kering lama hampa.

“Semua ini akan selesai setelah pesawat tiba di atas bumi. Ini Cuma mimpi, yang mungkin takkan terulangi,” tegasnya dalam hati membuang jauh jauh segala transformasi dari bentuk keinginan dan ekspektasi. Ini hanya akan jadi elegi.

Benar saja, setelah itu mereka tidak akan pernah berjumpa. Seharusnya tidak boleh ada yang membekas, karena hanya akan jadi luka. Kembalilah pada perasaan untuk mengeringkan luka lama. Membuat ranjam baru dan mengeringkannya sendiri hanya akan jadi lebih menyakitkan bukan?

Cepat atau lambat ia pasti akan mampu berdiri, kemudian ia benar – benar mampu untuk berlari (lagi). Menunggu pangeran hati menjemput dengan cinta kasih, menanti laki – laki yang seharusnya datang hari ini. Ia sadar, saat ini cinta adalah konspirasi untuk menjadi sejati. Bukan cinta sejati yang kemudian dikonspirasi untuk tetap bersemi.

            Semua cerita itu hanya tertinggal di atas sana, dihempas angin dan takkan kembali. Leaving on the jet plane.

– Imaji, Memori, #2th. Finish 9.36 June 12, 2012.

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Leaving On Jet Plane

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s