Gerah… Gerah.. Kapan…. Kapan….

Gerah

Seorang ibu yang biasanya berhawa dingin mengatakan ini gerah. Menjadi arti kalau malam ini suhu diatas rata – rata, bahkan bagi beliau yang lebib sering mengeluh dingin dibanding panas. kata orang dulu, gerah seperti ini pertanda hujan. Tapi kapan?

Gerah

Seorang  pria berperawakan gagah berbaju batik tulis mahal berkecipak di televisi mengatakan gerah. Ia berkata tak tahan melihat teman – temannya yang berpesta pora merayakan ke-67 dengan bergoyang dangdut dentam dentum tak tentu. Saat ia gerah, ribuan orang yang masih punya mulut berbicara, Turun!

Kapan

Mendung membumbung bak karpet panjang menuju ke istana abu – abu. Menambah sembilu dan terus meredup membungkus malam yang sendu tanpa bintang dan bulan. Tergugu menggigiti kuku menunggu. Kapan gerimis pertama akan turun?

Kapan

Saling oyak dan tuduh. Saling rebut dan memburu. Saling sikut untuk terus maju. Berebut dan terus meruntuk. Kapan mereka berdamai tanpa berkorban peluru? Katanya mala mini ada yang teror tak pandang bulu. Padahal yang jadi buron malah suruhan yang Cuma cari sebungkus nasi untuk sekotak rokok.

Mulai saja. Saling berperang sendiri. Demi kehormatan yang belum tentu hakiki. Selamat mengobar dan mengorbankan! yang lain Nobar (nonton bareng).

Menanti hujan, kapan datangnya.

Random

Nulis, gara – gara lihat recent update

Rumah, 30 Agustus 2012

22.49

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s