Hilang-Ruang

Memandang lekat senja bersekat kaca sembari menikmati suasana kota, terpengkur layar dalam genggaman. Tersenyum kemudian bergumam dan mengetik kembali. Sesekali menoleh ketika ada yang memanggil, begitulah kamu disana. Di negara antah berantah yang mungkin aku hanya mampu melihatnya dalam versi tidak nyata.

Penghujung tahun ini akan menjadi penghujung tahun yang sangat aku nantikan, sebentar lagi ada waktu dimana ruang – ruang itu terbuka dan membuat semuanya berjumpa. Konferensi nasional ini akan menjadi sesuatu yang aku bayangkan melihatmu duduk di kursi penting untuk sekedar berteori soal bangsa ini, kemudian memerkan kegiatanmu sembari berusaha merendah sambil berkata bahwa itu belum apa – apa. Sedangkan mata – mata lain terkesima dengan segala prestasi dan kebanggaan pada dirimu. Dan, aku hanya mampu terdiam.

“Hay, akhirnya datang, sudah ditunggu lhoo,” sapa seseorang yang aku tahu persis dan sering aku jumpai untuk bisa berjumpa denganmu.

“Kamu yang nungguin kan, Kak,” candaku lagi sembari mengamati mukanya yang terus bercahaya. Cahaya kebahagiaan.

Sudah aku rencanakan sebelumnya bahwa kedatanganku kali ini memang untuk bertemu dengan kalian bersamaan pertama kalinya ketika kalian terlah bersama. Duduk di bagian yang strategis dan bersama dengan orang – orang yang aku anggap bisa menjadi orang yang tepat membuat hari ini begitu sempurna. Ruang – ruang itu tidak akan bersekat hari ini, ruang itu akan nyata.

“Baiklah, akan kita nantikan wakil presiden kita,” jantungku berdegup kencang, menantimu melangkah ke dalam ruangan sembari membetulkan kaca matamu, berbalut jas hitam dengan langkah tegap dan senyum menawan. Ruangan pun senyap, kasak kusuk dibelakang tidak begitu aku hiraukan.

“Hello, sore semuanya.” Layar besar di depanku bergerak – gerak, aku hanya mampu menahan nafas selama beberapa detik hingga aku sadar bahwa itu adalah kamu.

“Kiki berangkat seminggu yang lalu ke Paris, sebetulnya dia menyesal tidak bisa mengikuti acara ini secara langsung,” jelas kekasihmu dengan panggilan kesayangannya “Kiki” saat berkata padaku. Aku hanya mampu bergumam dan menghela nafas.

Ruang – ruang ini terus membuat ruang dan tidak pernah menyatu. Ketika satu ruang dibuka ruang lain akan membuat ruang yang baru. Begitulah ruang dalam ruang, atau ruang menutupi sebuah ruang. Nampaknya Tuhan tidak pernah merestui ku berjumpa denganmu. Sekedar menyapa ataupun memperkenalkan diri bahwa kita pernah berkenalan sebelumnya.

Selanjutnya di kota Romantis itu yang aku tahu setiap waktu senja disini kau akan mengirimkan sepotong puisi untuk kekasihmu disini. Dan, aku hanya mampu membacanya. Membaca dan seolah itu untukku rasanya cukup menjadi kegiatan menyenangkan setiap senja. Mengintip di ruang – ruang itu, begitukah yang kucari? ~

Selesai, Semarag, 22 oktober

11.39

 

baca juga —-> Mencari Ruang 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s